Morfologi Sungai (SNI 03-2400-1991) adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang geometri, jenis, serta sifat dan perilaku sungai dengan segala aspek perubahan nya dalam dimensi, ruang, dan waktu yang menyangkut dinamika sungai dan lingkungannya yang saling berkelanjutan.
Berdasarkan morfologinya system sungai dikelompokan menjadi 4 (empat) tipe sungai, yaitu Sungai Braided, Sungai Meandering (Kekelok), Sungai Straight (Lurus), dan Sungai Anastomosing.

Gambar 01. Bentuk Alur Sungai
1. Sungai Braided
Alur sungai bercabang adalah alur sungai yang terdiri dari beberapa alur dengan alur satu dan lainnya saling berhubungan. Penyebab utama terjadinya alur bercabang adalah tingginya beban sedimen dasar, sehingga arus sungai tidak mampu untuk mengangkut. Banyaknya sedimen lebih berpengaruh dibandingkan dengan besar butir terhadap pembentukan alur sungai bercabang.
Apabila beban sedimen terlalu banyak, maka proses pengendapan akan terjadi, sehingga dasar sungai akan naik dan berakibat kemiringan dasar sungai juga bertambah dan selanjutnya akan terjadi keseimbangan. Dengan bertambahnya kemiringan dasar, maka kecepatan air akan naik dan selanjutnya akan terbentuk beberapa alur (alur bercabang), sehingga secara keseluruhan sungai akan menjadi lebih lebar. Hal lain yang terjadi pada alur bercabang adalah tebing yang relatif mudah tererosi. Apabila tebing alur sungai mudah tererosi, maka pada saat muka air tinggi lebar sungai akan menjadi lebih lebar dan pada saat air rendah endapan akan menjadi stabil dan terbentuk pulau-pulau.
Pada umumnya alur bercabang (braided channel) mempunyai kemiringan dasar yang cukup besar, beban sedimen dasar lebih besar dibandingkan dengan beban sedimen melayang, dan kandungan lumpur dan lempung relatif kecil. Tidak mudah melakukan kegiatan pekerjaan di daerah sungai yang bercabang, karena kondisi sungainya relatif tidak stabil, alinyemen alur sewaktu-waktu berubah dengan cepat, angkutan sedimen yang cukup besar, dan keadaan sungainya sulit dapat diperkirakan.

Gambar 02. Sungai Bercabang-cabang (Braided River)
2. Sungai Meander
Sungai Meander dapat didefinisikan sebagai sungai yang mempunyai alur berbelok-belok, sehingga hampir menyerupai huruf “S” berulang. Sungai bermeander terbentuk oleh adanya pergerakan menyamping akibat arus sungai terhadap formasi dan perubahan bentuk lengkungan sungai. Arus yang berbelok- belok juga akan terjadi pada sungai yang relatif lurus. Pada kenyataannya, hamper sebagian besar pada sungai yang lurus akan terjadi arus yang berbelok-belok dan akan terjadi endapan setempat-setempat yang selanjutnya dalam perkembangannya dapat terbentuk meander.

Gambar 03. Skema Meander
Meander sungai terdiri dari lubuk (“pool”) dan alur silang (“crossing”). Thalweg atau palung/alur utama, alur dari satu lubuk ke lubuk berikutnya membentuk sungai dengan Tipe “S”. Di tempat lubuk bentuk tampang lintang alurnya berbentuk segitiga. Endapan akan terjadi di lengkungan dalam. Di tempat alur silang sungai, tampang lintangnya berbentuk segiempat dengan kedalamannya lebih dangkal. Pada saat air rendah, kecepatan air tempat ini lebih cepat dibandingkan kecepatan air di lubuk.
Dari beberapa penelitian diperoleh kesimpulan bahwa panjang meander kira-kira antara 10 – 14 kali lebar sungai pada kondisi bankfull, atau dapat dinyatakan dalam debit bankfull L = 46Q0.39

Gambar 04. Skema Bentuk Meander

Gambar 06. Sungai Bentuk Meander
3. Sungai Straight
Sungai Lurus umumnya berada pada daerah bertopografi terjal mempunyai energy aliran kuat atau deras. Energi yang kuat ini berdampak pada intensitas erosi vertikal yang tinggi, jauh lebih besar dibandingkan erosi mendatarnya. Kondisi seperti itu membuat sungai jenis ini mempunyai kemampuan pengendapan sedimen kecil sehingga alirannya lurusnya tidak berbelok-belok atau low sinuosity. Dikarenakan kemampuan sedimentasi yang kecil inilah maka sungai tipe ini jarang yang meninggalakan endapan tebal. Sungai tipe ini biasanya dijumpai pada daerah pegunungan, yang mempunyai topografi tajam. Sedimen sungai lurus ini sangat jarang dijumpai dan biasanya dijumpai pada jarak yang sangat pendek.
4. Sungai Anastomasing
Sungai anastomasing terjadi karena adanya dua aliran sungai yang bercabang- cabang, dimana cabang yang satu dengan cabang yang lain bertemu kembali pada titik dan kemudian bersatu kembali pada titik yang lain membentuk satu aliran. Energi alir sungai tipe ini rendah. Ada perbedaan yang jelas antara Sungai Braided dan Sungai Anastomosing. Pada Sungai Braided, aliran sungai menyebar dan kemudian bersatu kembali menyatu masih dalam lembah sungai tersebut yang lebar. Sedangkan untuk Sungai Anastomasing adalah beberapa sungai yangterbagi menjadi beberapa cabang sungai kecil dan bertemu kembali pada induk sungai pada jarak tertentu.

Gambar 06. Sungai Bentuk Anastomasing
Sumber : (Modul 6 : Morfologi Sungai- Pelatihan Perencanaan Teknis Sungai KEMENPUPR)