Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Kulon Progo menggelar rapat koordinasi pengisian Blangko 01-O untuk seluruh Daerah Irigasi (DI) di Kabupaten Kulon Progo. Langkah strategis ini menjadi fondasi utama dalam menyusun Rencana Tata Tanam Tahunan guna mengoptimalkan Operasi dan Pemeliharaan (OP) jaringan irigasi menjelang Musim Tanam I (MT I). Acara ini juga menghadirkan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta.

Dalam manajemen pengelolaan Sumber Daya Air, ketersediaan infrastruktur fisik seperti bendung dan saluran primer saja tidak cukup. Keberhasilan ketahanan pangan sangat bergantung pada tata kelola distribusi air yang adil dan efisien. Di sinilah Blangko 01-O memegang peran yang krusial. Blangko 01-O merupakan formulir resmi usulan luas tanam per daerah irigasi yang diajukan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A/IP3A) bersama Juru Pengairan. Dokumen tahunan ini berfungsi untuk memetakan:
a. Rencana Luas Area Sawah: Luasan lahan komoditas padi, palawija, tebu, hingga lahan yang diberokan (diistirahatkan).
b. Kalender Tanam: Kepastian jadwal mulai tanam per musim tanam dan per golongan pembagian air demi menghindari konflik perebutan air.
c. Prediksi Kebutuhan Air: Estimasi debit air yang harus dialirkan oleh dinas dari bangunan utama pintu air berdasarkan kebutuhan fase pertumbuhan tanaman.

Pengisian Blangko 01-O sering kali menghadapi kendala ketidakpastian alam akibat pergeseran musim. Oleh sebab itu perlu mengintegrasikan pendekatan berbasis data ilmiah (data-driven) dengan melibatkan BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta serta Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo.
BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta memaparkan prakiraan dinamika atmosfer, curah hujan harian, serta potensi anomali cuaca (seperti El Nino atau La Nina) untuk periode setahun ke depan. Informasi iklim presisi ini mencegah petani berspekulasi dan membantu Juru Pengairan mengantisipasi potensi kekeringan atau banjir ekstrem sejak dini.

Adapun Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo memaparkan rekomendasi varietas tanaman unggul yang adaptif terhadap proyeksi iklim dari BMKG. Misalnya, merekomendasikan varietas padi berumur genjah (cepat panen) atau tahan kekeringan jika pasokan air diprediksi minim, serta mengatur rotasi tanaman palawija pada Musim Tanam III (MT III).
Jika ditarik ke dalam perspektif yang lebih luas, pengisian Blangko 01-O ini adalah implementasi nyata dari konsep Integrated Water Resources Management (IWRM) atau Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Air irigasi tidak bisa dikelola secara sepihak oleh instansi teknik saja, melainkan harus melibatkan pengguna air (petani) dan pembina komoditas (pertanian).
Data yang terkumpul dari seluruh Daerah Irigasi se-Kulon Progo melalui Blangko 01-O ini selanjutnya direkapitulasi secara berjenjang ke dalam Blangko 02-O (usulan rencana tata tanam) dan Blangko 03-O (keputusan rencana tata tanam). Hasil akhir dari rantai data ini adalah dokumen keputusan resmi Bupati Kulon Progo tentang Rencana Tata Tanam Tahunan serta Pembagian dan Pemberian Air Irigasi Tahunan Kabupaten Kulon Progo untuk Periode Tahun 2026-2027. Dokumen keputusan tersebut menjadi landasan hukum bagi petugas Operasi dan Pemeliharaan (OP) di lapangan untuk membuka dan menutup pintu air secara proporsional demi menyukseskan masa tanam.
Melalui integrasi data dan kolaborasi berbagai pihak diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) sekaligus memperkokoh kedaulatan pangan daerah di tengah dinamika perubahan iklim global.