Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

METODE PENGENDALIAN BANJIR

Admin
Artikel
19 April 2024 00:00:00

Image Berita


Pengendalian banjir merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak banjir pada manusia, harta benda, dan lingkungan. Di samping itu suksesnya program pengendalian banjir juga tergantung dari aspek lainnya yang menyangkut sosial, ekonomi, lingkungan, institusi, kelembagaan, hukum dan lainnya.
Pada dasarnya kegiatan pengendalian banjir adalah suatu kegiatan yang meliputi aktivitas sebagai berikut:

  • Mengenali besarnya debit banjir
  • Mengisolasi daerah genangan banjir
  • Mengurangi tinggi elevasi air banjir

menurut teknis penanganan pengendalian banjir dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

  • Pengendalian banjir secara teknis (metode struktur).
  • Pengendalian banjir secara non teknis (metode non-struktur).

1. Metode Struktur
1.1 Bangunan Pengendali Banjir
a.  Bendungan/waduk
Secara teknis perencanaan untuk dam pengendalian banjir adalah sebagai berikut
1) Metode pengatur banjir
Debit banjir akan diatur secara alamiah oleh pelimpah dari dam yang tanpa menggunakan pintu pengatur, dengan tujuan memudahkan operasi, untuk menekan biaya operasi dan pemeliharaan dimasa mendatang.
2) Ratio penurunan debit banjir pada dam pengendali banjir
Pada dam pengendali banjir terdapat alokasi volume untuk pengendalian banjir dan volume untuk memenuhi kebutuhan air. Alokasi volume waduk untuk pengendalian banjir, akan menentukan pola hidrograf banjir yang dilepas waduk ke hilir dan ratio penurunan debit banjir.
3) Alokasi kapasitas untuk pengendalian banjir
-Bila kapasitas untuk pengendalian banjir dan biaya konstruksi dam naik, maka debit rencana dan biaya perbaikan sungai akan menurun.
-Kapasitas pengendalian banjir ditentukan oleh biaya total minimum dari perbaikan sungai dan biaya konstruksi dam.

b. Kolam retensi/penampungan (retention basin)
Seperti halnya bendungan, kolam penampungan (retention basin) berfungsi untuk menyimpan sementara debit sungai sehingga puncak banjir dapat dikurangi, retention berarti penyimpanan. Tingkat pengurangan banjir tergantung pada karakteristik hidrograf banjir, volume kolam dan dinamika beberapa bangunan outlet. Wilayah yang digunakan untuk kolam penampungan biasanya di daerah dataran rendah atau rawa.
Untuk strategi pengendalian yang andal diperlukan pengontrolan terkait peramalan banjir dan sistem drainase untuk mengosongkan air dari daerah tampungan secepatnya setelah banjir reda.

c. Pembuatan check dam (penangkap sedimen)
Check dam adalah bangunan untuk memperkecil kemiringan dasar memanjang sungai sehingga bisa mereduksi kecepatan air, erosi dan membuat sedimen bisa tinggal di bagian hulu bangunan. Sehingga bangunan ini bisa menstabilkan saluran atau sungai.

d. Bangunan pengurang kemiringan sungai
Bangunan ini bisa berupa drop structure atau groundsill. Manfaatnya adalah bisa mengurangi kecepatan air, dan untuk groundsill juga dapat mencegah scouring pada hilir bendung atau pilar jembatan.

e. Retarding basin
Retarding basin adalah suatu kawasan (cekungan) yang didesain dan dioperasikan untuk tampungan (storage) sementara sehingga bisa mengurangi puncak banjir dari suatu sungai. Dapat dikatakan pula suatu tampungan (reservoir) yang mengurangi puncak banjir melalui simpanan sementara.

f. Pembuatan polder
Polder berfungsi sementara untuk menampung aliran banjir ketika sungai atau saluran tak bisa mengalir ke hilir secara gravitasi karena di sungai tersebut terjadi banjir dan ada air pasang di laut untuk daerah pantai. Bila mana polder penuh maka dipakai pompa untuk mengeluarkan air di dalam polder tersebut sehingga daerah yang dilindungi tidak kebanjiran.

1.2.  Sistem Perbaikan dan Pengaturan Sungai
Metode struktur pengendalian banjir untuk sistem jaringan sungai diantaranya adalah:
a. River improvement (perbaikan/peningkatan sungai)
River improvement dilakukan terutama berkaitan erat dengan pengendalian banjir, yang merupakan usaha untuk memperbesar kapasitas pengaliran sungai. Hal ini dimaksudkan untuk menampung debit banjir yang terjadi untuk dialirkan ke hilir atau laut, sehingga tidak terjadi limpasan.

b. Tanggul 
Tanggul adalah penghalang yang didesain untuk menahan air banjir di palung sungai untuk melindungi daerah di sekitarnya. Tanggul juga berfungsi untuk melokalisir banjir di sungai, sehingga tidak melimpas ke kanan dan ke kiri sungai yang merupakan daerah peruntukan.

c. Sudetan (by pass/short cut)
Sudetan (by pass) adalah saluran yang digunakan untuk mengalihkan sebagian atau seluruh aliran air banjir dalam rangka mengurangi debit banjir pada daerah yang dilindungi.

d. Floodway
Pembuatan floodway dimaksudkan untuk mengurangi debit banjir pada alur sungai lama, dan mengalirkan sebagian debit tersebut banjir melalui floodway. Hal ini dapat dilakukan apabila kondisi setempat sangat mendukung untuk membuat floodway. Apabila kondisi lapangan tidak menguntungkan, misalnya sungai untuk jalur floodway tidak ada, maka pembuatan floodway kurang layak untuk dilaksanakan.

e.  Sistem drainase khusus
Sistem drainase khusus sering diperlukan untuk memindahkan air dari daerah rawan banjir karena drainase yang buruk secara alami atau karena ulah manusia. Sistem khusus tipe gravitasi dapat terdiri dari saluran-saluran alami. Alternatif dengan pemompaan mungkin diperlukan untuk daerah buangan dengan elevasi air di bagian hilir yang terlalu tinggi.

2. Metode Non-Struktural
Analisis pengendalian banjir dengan tidak menggunakan bangunan pengendali akan memberikan pengaruh cukup baik terhadap regim sungai. Contoh aktifitas penanganan tanpa bangunan adalah sebagai berikut:

a. Pengelolaan DAS
Pengelolaan DAS mencakup aktivitas-aktivitas berikut ini

  • Pemeliharaan vegetasi di bagian hulu DAS.
  • Penanaman vegetasi untuk mengendalikan atau mengurangi kecepatan aliran permukaan dan erosi tanah.
  • Pemeliharaan vegetasi alam, atau penanaman vegetasi tahan air yang tepat, sepanjang tanggul drainase, saluran-saluran dan daerah lain untuk pengendalian aliran yang berlebihan atau erosi tanah.
  • Mengatur secara khusus bangunan-bangunan pengendali banjir (misal check dam) sepanjang dasar aliran yang mudah tererosi.
  • Pengelolaan khusus untuk mengatisipasi aliran sedimen yang dihasilkan dari kegiatan gunung berapi yang dikenal dengan nama debris flow.

b. Pengaturan Tata Guna Lahan
Penataan masing-masing kawasan, proporsi masing-masing luas penggunaan lahan dan cara pengelolaan masing-masing kawasan perlu mendapat perhatian yang baik. Daerah atas dari daerah aliran sungai yang merupakan daerah penyangga, yang berfungsi sebagai recharge atau pengisian kembali air tanah, perlu diperhatikan luasan masing-masing kawasan. Misalnya untuk luasan kawasan hutan minimum/kira-kira 30% dari luas daerah aliran sungai.
Sedangkan untuk mencegah adanya laju erosi DAS yang tinggi perlu adanya cara pengelolaan yang tepat, untuk masing-masing kawasan. Pengelolaan lahan tersebut dapat meliputi, sistem pengelolaan, pola tanam dan jenis tanaman yang disesuaikan jenis tanah, kemampuan tanah, elevasi dan kelerengan lahan. Karena dengan adanya erosi lahan yang tinggi akan menentukan besarnya angkutan sedimen di sungai dan mempercepat laju sedimentasi di sungai, terutama di bagian hilir. Dengan adanya sedimentasi di sungai akan merubah penampang sungai dan memperkecil kapasitas pengaliran sungai.

c. Pengendalian Erosi
Beberapa cara pengendalian erosi di DAS diantaranya

  • Terasering
  • Buffer strip (garis penyangga)
  • Rotasi penanaman (perubahan pola tanam)
  • Crop cover atau penutupan lahan (dengan tanaman lebat) mengurangi erosi

d. Pengembangan dan Pengaturan Daerah Banjir/Genangan
Pemanfaatan daerah genangan sering mengurangi kapasitas alur sungai dan daerah genangan. Kelancaran aliran akan berkurang karena bangunan rumah, gedung-gedung, jalan-jalan, jembatan dan pengusahaan tanaman yang memiliki daya tahan besar merupakan penghambat aliran. Pengendalian pemanfaatan daerah genangan termasuk peraturan-peraturan penetapan wilayah penggunaan lahan, dan bangunan-bangunan. Maksud dari pengendalian daerah genangan adalah untuk membatasi atau menentukan tipe pengembangan dengan mempertimbangkan resiko dan kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir.

e. Penanganan Kondisi Darurat
Perencanaan penanggulangan banjir perlu dibuat sebelumnya, berdasarkan pengalaman yang telah lalu. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan penanggulangan banjir:

  • Identifikasi masalah.
  • Kebutuhan bahan dan peralatan penanggulangan.
  • Kebutuhan tenaga penanggulangan.

f.  Peramalan (Forcasting) dan Sistem Peringatan Banjir (Flood Warning System)
Peramalan banjir adalah merupakan bagian dari sistim pengendalian banjir suatu sistem sungai. Maka dalam penyusunan sistim peramalan dan peringatan dini banjir DAS perlu memperhatikan:

  • Bangunan pengendalian banjir.
  • Operasional bangunan sistim pengendalian banjir.
  • Hidrologi
  • Karakteristik DAS.
  • Karakteristik daerah rawan banjir.
  • Kemungkinan kerugian akibat banjir.
  • Waktu perambatan banjir.

 

(Sumber: Pusat  Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi) 
https://simantu.pu.go.id/epel/edok/41622_04._Modul_4_Metode_Pengendalian_Banjir.pdf 



Source: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

WhatsApp Chat