POTENSI KETERSEDIAAN AIR DI KABUPATEN KULONPROGO (BAGIAN TERAKHIR)

Neraca air merupakan model hubungan kuantitatif antara jumlah air yang tersedia di atas dan di dalam tanah dengan jumlah curah hujan yang jatuh pada luasan dan kurun waktu tertentu. Ketersediaan sumber daya air sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, topografi, jenis tanah, tutupan lahan serta  struktur geologi suatu daerah. Dari hasil perhitungan analisis neraca air dengan metode FJ.Mock didapatkan urutan atau ranking debit air permukaan dari 18 Sub DAS yang ada di Kabupaten Kulon Progo.

Selanjutnya berkaitan dengan analisis kebutuhan air baku dari air permukaan berupa kebutuhan untuk masyarakat domestik yaitu 60 lt/kapita/hari, kemudian dihitung kecakupan Sub DAS dalam Kapanewon. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2020 sejumlah 426.420 jiwa.

Untuk Kapanewon Samigaluh meliputi Sub DAS Kodril, sebagian besar Sub DAS Tinalah dan Sub DAS Sudu. Selanjutnya dari jumlah penduduk didapatkan kebutuhan air bersih harian dan bulanan. Dari kebutuhan  air bulanan dapat dijadikan dasar untuk menghitung neraca kebutuhan air baku kemudian dapat untuk mengetahui “surplus” atau “defisit” kebutuhan air baku suatu wilayah. Dari perhitungan didapatkan di Kapanewon Samigaluh secara umum masih surplus untuk memenuhi kebutuhan air baku. Nilai surplus terbesar air baku terdapat di Sub DAS Tinalah sebesar 10.285 liter/dt  dan yang terkecil di Sub DAS Kodril sebesar 3.103 liter/dt

Kapanewon Kalibawang di kontribusi oleh Sub DAS Diro, Sub DAS Krawang, Sub DAS Penter, Sub DAS Kedunggong, Sebagian kecil Sub DAS Tinalah dan Sub DAS Sindon Salak. Pada bul-bulan kering masih dijumpai defisit air baku di Sub DAS Diro sebesar : 149 liter/dt, Sub DAS Krawang sebesar : 136 liter/dt, Sub DAS Penter sebesar : 207 liter/dt, Sub DAS Kedung Gong sebesar : 159 liter/dt. Untuk Sub DAS Tinalah yang berada di sisi bagian selatan Kapanewon Kalibawang masih relatif cukup dalam pemenuhan kebutuhan air baku. Nilai surplus terbesar air baku terdapat di Sub DAS Tinalah sebesar 8.344 liter/dt  dan yang terkecil di Sub DAS Sindonsalak sebesar 85 liter/dt

Ketersediaan air permukaan di Kapanewon Girimulyo didukung oleh Sub DAS Sudu, Sub DAS Tinalah, Sub DAS Sumitro, dan sebagian kecil Sub DAS Serang Sekiyep. Surplus paling besar dikontribusi oleh Sub DAS Sumitro dengan nilai sebesar 16.401 liter/dt secara umum di Kapanewon Girimulyo, debit permukaan perlu dimanfaatkan secara lebih optimal untuk pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat.

Di Kapanewon Nanggulan didukung oleh Sub DAS Sudu, Sub DAS Tinalah bagian hilir, Sub DAS Jenes bagian hulu dan sebagian kecil Sub DAS Sumitro. Didapatkan nilai surplus nya relatif kecil ( rata-rata hanya sebesar : 5,38 liter/dt) dan ini menandakan bahwa potensi kelangkaan air masih mungkin terjadi di beberapa wilayah di Kapanewon Nanggulan. Nilai surplus berada di Sub DAS Tinalah sebesar 7.191 liter/dt.

Kapanewon Sentolo di dukung oleh Sub DAS Jenes dan Sub DAS Progo Hilir. Secara umum ketersediaan air permukaan masih relatif mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakatnya. Yang perlu diperhatikan adalah keberadaan Sungai Rowo Jembangan yang merupakan drainase pembuang mengingat fungsinya sangat vital terutama pada saat musim penghujan. Surplus air baku berada di Sub DAS Jenes sebesar 13.776 liter/dt.

Kapanewon Kokap dikontribusi oleh beberapa Sub DAS dalam rangka penyediaan air permukaan yaitu : Sub DAS Ngrancah, Sub DAS Nagung, Sub DAS Plamping, Sub DAS Sidatan dan Sub DAS Serang Sekiyep. Secara umum meskipun lokasinya sebagian besar merupakan catchment area atau daerah tangkapan air untuk Waduk Sermo namun masih ada defisit air yang terjadi di Sub DAS Plamping sebesar 9,2 liter/dt, letak Sub DAS Plamping berada lebih tinggi dari rata-rata permukaan Waduk Sermo. Surplus air baku berada di Sub DAS Nagung sebesar 5.640 liter/dt.

Ketersediaan air di Kapanewon Pengasih didukung oleh Sub DAS Serang Sekiyep, Sub DAS Sumitro bagian hilir, Sub DAS Nagung, Sub DAS Serang Hilir dan Sub DAS Jenes. Secara umum ketersediaan air masih mencukupi kecuali pada bulan-bulan kering masih terjadi defisit air di wilayah Sub DAS Serang Sekiyep. Nilai surplus terbesar ada di wilayah Sub DAS Sumitro bagian hilir sebesar 9,2 liter/dt dan yang terkecil di Sub DAS Jenes sebesar 1,5 liter/dt.

Kapanewon Wates didukung oleh Sub DAS Nagung dan Sub DAS Serang Hilir secara umum ketersediaan air permukaannya masih mencukupi dengan keberadaan Sub DAS Serang Hilir dengan nilai surplus 6,54 liter/dt dan Sub DAS Nagung dengan nilai surplus 1,27 liter/dt.

Kapanewon Temon didukung oleh Sub DAS Plamping, Sub DAS Keduren, Sub DAS Sidatan dan Sub DAS Nagung. Adapun defisit air terjadi di wilayah Sub DAS Plamping dan Sub DAS Keduren dengan nilai defisit 13,1 liter/dt terutama di bulan-bulan kering. Nilai surplus terbesar ada di wilayah Sub DAS Sidatan nilainya 8,55 liter/detik dan yang terkecil terjadi di Sub DAS Nagung 3,12 liter/dt. Yang perlu diperhatikan adalah ketika musim penghujan dimana sering terjadi genangan karena wilayah Kapanewon Temon sebagian besar merupakan dataran rendah dan banyak obyek vital salah satunya yaitu keberadaan Bandara YIA.

Wilayah Kapanewon Panjatan dikontribusi oleh Sub DAS Serang Hilir, Sub DAS Progo Hilir dan Sebagian kecil Sub DAS Jenes. Secara umum pemenuhan kebutuhan air baku permukaan dapat dipenuhi oleh ketiga Sub DAS tersebut diatas, yang perlu diperhatikan adalah ketika musim basah/penghujan dimana sering terjadi genangan banjir karena wilayah Kapanewon Panjatan sebagian besar merupakan dataran rendah. Nilai surplusnya rata-rata sebesar 8,32 liter/dt.

Ketersediaan air permukaan di wilayah Kapanewon Lendah didukung oleh Sub DAS Progo Hilir dan sebagian kecil Sub DAS Jenes, secara umum kebutuhan air baku masyarakat masih dapat dipenuhi dengan nilai surplus Sub DAS Progo Hilir sebesar 37,38 liter/dt.

Kapanewon Galur dalam pemenuhan air permukaan untuk air baku didukung oleh Sub DAS Progo Hilir dengan nilai surplus 30,59 liter/detik. Yang perlu diperhatikan karena wilayah Kapanewon Galur sebagian besar merupakan dataran rendah maka keberadaan saluran drainase untuk selalu dipelihara agar tetap berfungsi optimal.

Secara umum ketersediaan air baku permukaan di wilayah Kabupaten Kulon Progo masih mencukupi kebutuhan domestik masyarakat didapatkan nilai ketersediaan sebesar 272,329 m3/dt dan nilai kebutuhan 108,085 m3/dt. Di lain sisi pola distribusinya ada yang kurang merata, diindikasikan dengan adanya defisit di sebagian kecil wilayah dan kelangkaan air yang sering terjadi saat musim kemarau di beberapa Sub DAS.

Demikianlah tulisan ini merupakan sedikit pendekatan untuk mengetahui keberadaan atau kondisi neraca air secara umum di wilayah Kabupaten Kulon Progo dalam konteks air permukaan secara sederhana, dimulai dari identifikasi Sub DAS sampai dengan identifikasi neraca air permukaan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat. Semoga dapat menjadi inspirasi dalam upaya mendukung rencana-rencana berkaitan pengelolaan Sumber Daya Air untuk masa mendatang -(JOKO-SDA)