Metode Pelaksanaan Lapis Pondasi Agregat (Kelas A, B, dan S)

Struktur jalan terdiri dari berbagai lapisan struktur mulai dari lapis pondasi agregat (kelas A dan B), AC-BC, AC-WC, dan sebagainya. Setiap lapisan struktur mempunyai fungsi masing-masing dan metode pelaksanannya juga berbeda-beda. Lapis pondasi agregat kelas A, B, dan S tidak menggunakan bahan material aspal karena struktur tersebut termasuk dalam kategori pondasi jalan.

Lapis pondasi agregat adalah lapisan struktur yang berada di atas tanah/ sub grade yang berfungsi untuk memberikan daya dukung pada jalan sehingga permukaan jalan tetap dalam kondisi stabil. Pondasi memegang peranan penting dalam ketahanan suatu jalan. Sebagian besar kerusakan aspal jalan disebabkan karena lapis pondasi agregat tidak kuat dan tidak stabil.

  1. Lapis Pondasi Agregat Kelas B

LPB adalah lapis pondasi agregat yang berada di atas tanah dasar/ subgrade. Tanah dasar di bawah LPB bisa berupa tanah asli maupun tanah timbunan dan galian. Lapis pondasi agregat kelas B ini merupakan campuran dari berbagai fraksi agregat. Komposisi campuran agregat kelas B tergantung dari Job Mix Formula yang telah dibuat. Pembuatan JMF dimulai dengan berbagai pengujian material agregat antara lain pengujian berat jenis, CBR, uji kekerasan batu (abrasi), dan lain sebagainya. Contoh komposisi agregat kelas B hasil JMF adalah sebagai berikut:

Fraksi 1 (37,5 – 50 mm) = 15%

Fraksi 2 (0 – 37,5 mm) = 53%

Fraksi 3 (pasir) = 32%.

Pelaksanaan agregat kelas B dilakukan setelah subgrade siap. Langkah-langkah pekerjaan agregat kelas B dilakukan sebagai berikut:

  • Pekerjaan persiapan subgrade dengan melakukan pengukuran menggunakan alat ukur seperti TS, theodolit maupun waterpass.
  • Proses pemecahan batu menjadi fraksi yang diinginkan menggunakan stone crusher.
  • Blending material mulai dari fraksi 1, 2, dan 3 sesuai komposisi JMF. Blending bisa menggunakan alat blending plant. Jika tidak tersedia, blending bisa menggunakan excavator maupun wheel loader.
  • Proses pengangkuran menuju lokasi penghamparan menggunakan dump truck.
  • Penghamparan agregat menggunakan motor grader dengan ketebalan hampar agregat maksimum 20 cm.
  • Proses pemadatan menggunakan vibro roller. Pada saat pemadatan perlu dijaga kadar air. Oleh karena itu perlu dilakukan penyiraman menggunakan truck water tank.
  • Pengujian ketebalan LPB atau tes spit.
  • Pengujian kepadatan agregat menggunakan metode sand cone. Tingkat kepadatan sampai 100%.
  • Pengujian CBR lapangan dan CBR laboratorium dengan nilai CBR minimal 60%.
  1. Lapis Pondasi Agregat Kelas A

Lapis pondasi agregat kelas A (LPA) adalah campuran agregat dengan berbagai fraksi dan material yang digunakan untuk pondasi perkerasan aspal maupun perkerasan beton. LPA berada di atas LPB. Perbedaan antara LPA dan LPB ada pada komposisi campuran dan kriteria pondasi. Contoh komposisi agregat kelas pada JMF antara lain:

Fraksi 1 (20 – 37,5 mm) = 38%

Fraksi 2 (10 – 20 mm) = 19%

Fraksi 3 (0 – 10 mm) = 25%

Fraksi 4 (pasir) = 18%.

Pelaksanaan lapis pondasi agregat kelas A hampir sama dengan LPB, seperti berikut:

  • Dilakukan setelah lapis pondasi agregat kelas B sudah selesai dikerjakan.
  • Proses pemecahan batu menjadi fraksi yang diinginkan menggunakan stone crusher.
  • Blending material pada fraksi 1, 2, 3, dan 4 sesuai komposisi JMF menggunakan alat blending plant atau menggunakan excavator maupun wheel loader.
  • Pengankutan menuju lokasi penghamparan menggunakan dump truck.
  • Penghamparan agregat menggunakan motor grader dengan tebal hampar agregat maksimum 20 cm.
  • Proses pemadatan menggunakan vibro roller. Pada saat pemadatan perlu menjaga kadar air, oleh karena itu perlu dilakukan penyiraman menggunakan truck water tank.
  • Pengujian ketebalan LPA atau tes spit.
  • Pengujian kepadatan agregat menggunakan metode sand cone dengan tingkat kepadatan sampai 100%.
  • Pengujian CBR lapangan dan CBR laboratorium dengan nilai CBR minimal 90%.
  1. Lapis Pondasi Agregat Kelas S

Lapis pondasi agregat kelas S adalah perkerasan berbutir yang digunakan sebagai bahu jalan. Bahu jalan terletak di tepi kanan dan kiri badan jalan. Biasanya lebar agregat kelas S 1,5 – 2 m dan tebal 15 cm. Campuran yang digunakan untuk membuat LPS tergantung dari JMF yang telah dibuat. Contoh komposisi lapis pondasi agregat kelas S adalah sebagai berikut:

Fraksi 1 (10 – 25 mm) = 30%

Fraksi 2 (Pasir) = 70%.

Pelaksanaan lapis pondasi agregat kelas S biasa dilakukan setelah perkerasan aspal AC-WC. Berikut adalah metode pelaksanaan LPS yang biasa dilakukan:

  • Material agregat S di atas LPB pada bahu jalan.
  • Proses pemecahan batu menjadi fraksi yang diinginkan menggunakan stone crusher.
  • Blending material mulai dari fraksi 1 dan 2 sesuai komposisi JMF. Blending bisa menggunakan alat blending plant. Jika tidak tersedia blending bisa menggunakan excavator maupun wheel loader.
  • Proses pengangkutan stockpile menuj lokasi penghamparan menggunakan dump truck.
  • Penghamparan agregat menggunakan motor grader disesuaikan dengan kemiringan bahu jalan.
  • Proses pemadatan menggunakan alat berat vibro roller. Pada saat pemadatan perlu menjaga kadar air. Oleh karena itu perlu dilakukan penyiraman menggunakan truck water tank.
  • Pengujian ketebalan LPS atau tes spit.
  • Pengujian kepadatan agregat menggunakan metode sand cone. Tingkat kepadatan sampai 100%.
  • Pengujian CBR lapangan dan CBR laboratorium dengan nilai CBR minimal 50%.

Proses pelaksanaan pondasi agregat harus benar-benar dilakukan sesuai dengan prosedur karena sangat berpengaruh terhadap kualitas badan jalan.

(BM)