Konsep Pengembangan Permukiman Kota Bag. 2

 

CITY OF PEDESTRIAN

( Konsep Pengembangan Permukiman Kota )

 


City of pedestrian merupakan konsep pengembangan kota yang memungkinkan untuk penduduknya berjalan kaki dari lokasi yang satu dengan yang lain.  Berjalan kaki merupakan bentuk transportasi yang paling dasar menggunakan tubuh sendiri untuk berpindah tempat.

Pedestrian membutuhkan sebuah ruang yang menghubungkannya dengan tempat berkegiatan lainnya. Dengan pengembangan dari city of pedestrian ini diharapkan dapat mengurangi beban yang timbul di jalan raya.

 

Gambar Ilustrasi Pedestrian

 

Jan Gehl menyatakan dalam buku Life Between Building mengenai ruang berjalan sbb:

“ Walking demands space ; it is necessary to able to walk reasonably freely without being disturbed, without being pushed and without having maneuver too much.  The problem here is define the human level of tolerance for interferences encountered during walking so that spaces are sufficiently narrow and rich in experiences, yet still wide enough to allow room to maneuver”.

Pedestrian ways memiliki beberapa fungsi selain sebagai jalur pejalan kakai, diantaranya :

·      Menjadi kerangka kawasan (Urban Skeleton).

·      Menjadi nadi pergerakan (sirkulasi) di dalam kawasan inti.

·      Menjadi Linkage Kawasan baik internal distrik maupaun antar distrik.

·      Menjadi green corridor

 

Secara umum fungsi pedestrian ways dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu full-pedestrian, dan semi pedestrian

1. Full-Pedestrian / Pedestrian penuh

Sebuah full-pedestrian diciptakan dengan cara menutup ruas jalan yang semula digunakan oleh lalu lintas kendaraan bermotor. Ruas jalan tersebut kemudian ditingkatkan kualitasnya dengan cara memasang pelapis jalan, memasang lampu, membuat lanscape, dan melengkapi dengan street furniture. Pejalan kaki diprioritaskan lebih tinggi dibanding kendaraan bermotor, bisa dibilang area bebas kendaraan bermotor kecuali darurat. Bongkar muat / loading-unloading untuk area sekitarnya harus melalui jalan belakang.

Konsep full pedestrian mempunyai karakter untuk ‘mengekspesikan diri’ bagi para pejalan kaki. Para pejalan kaki benar – benar merasa dimanjakan, mereka bisa duduk, bersenda gurau tanpa ragu akan bahaya tertabrak kendaraan bermotor.

Contoh konsep full pedestrian ways yang menarik terlihat pada kawasan pedestrian Dam Square, Amsterdam. 

 

Contoh Konsep Full Pedestrian pada kawasan Dam Square, Amsterdam. 

Contoh Konsep Full Pedestrian pada kawasan Dam Square, Amsterdam. 

 

2. Semi- Pedestrian

Di semi-pedestrian, lalu lintas kendaraan benar2 dikurangi, dan permukaan jalur kendaraan disamakan dengan jalur pejalan kaki. Lalu lintas kendaraan harus berbagi ruang dengan pejalan kaki dan harus mengutamakan kepentingan pejalan kaki. Perencanaan lingkungan adalah berorientasi kepada manusia. Dengan pejalan kaki dan harus mengutamakan kepentingan pejalan kaki. Perencanaan lingkungan adalah berorientasi kepada manusia.

Karena antara pejalan kaki berbagi ruang dgn kendaraan bermotor ( mobil, motor, dll ), maka seyogyanya dapat saling menghargai, misalnya : pohon2 dan street furniture harus di atur sehingga tidak menutupi pandangan.

Pada Konsep semi pedestrian ruas jalan tidak bener – benar ditutup dari kendaraan bermotor, akan tetapi intensitasnya harus mengutamakan para pejalan kaki.

Contoh konsep semi pedestrian dapat terlihat di kawasan jalur malioboro. Dimana kendaraan bermotor dan pejalan kaki dapat saling bersinergi memberikan ruang yang cukup antara satu pihak pengguna jalan dengan pihak pengguna jalan yang lain.

 

Contoh Konsep Semi Pedestrian pada Kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta