VEHICLE DAMAGE FACTOR (PART 2)

Perhubungan Darat

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat : Panduan batasan maksimum perhitungan JGI (Jumlah berat yang diijinkan) dan JBKI (Jumlah berat kombinasi yang diijinkan) untuk mobil barang, kendaraan khusus, kendaraan penarik berikut kereta tempelan / kereta gandengan Nomor SE.02/AJ.108/DHUD/2008 tanggal 7 Mei 2008, memberikan ketentuan konfigurasi sumbu seperti pada Tabel 6. & Tabel 7.

Tabel 6. : Hubungan konfigurasi sumbu, MST (Muatan Sumbu Terberat) dan JBI (Jumlah Berat yang di-Ijinkan)

Tabel 7. : Hubungan konfigurasi sumbu, MST (Muatan Sumbu Terberat) dan JBKI (Jumlah Bera Kombinasi yang di-Ijinkan)

 

NAASRA

Nilai Angka Ekivalen Beban Sumbu (E) yang digunakan oleh NAASRA, Australia, dengan formula berikut ini :

  • Sumbu tunggal, roda tunggal : E = [ Beban sumbu tunggal, kg / 5400 ]4
  • Sumbu tunggal, roda ganda : E = [ Beban sumbu tunggal, kg / 8200 ]4
  • Sumbu ganda, roda ganda : E = [ Beban sumbu ganda, kg / 13600 ]4
  •  

Tinjauan khusus VDF

Bila kita perhatikan damage factor formula sebagaimana tercantum diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan yang sangat menarik sebagai berikut :

Dari formula single axle(koefisien 1 dan exponen 4) :

Bila beban (P) dinaikkan 2 kali lipat, nilai daya rusak akan naik menjadi 16 kali lipat. Ini berarti pula bahwa pelanggaran ketentuan batas muatan hingga 2 kali lipatnya (200 %) akan berakibat peningkatan daya rusak 16 kali lipat.

Dari formula tandem axle (koefisien 0,086 dan exponen 4) :

Bila beban (P) dimuatkan pada tandem axle, dibandingkan dengan bila dimuatkan pada single axle akan terjadi penurunan daya rusak (untuk beban P yang sama) sebesar 91,4 % (1 – 0,086 = 0,914 = 91,4 %).

Dari formula triple axle (koefisien 0,053 dan exponen 4) :

Bila beban (P) dimuatkan pada triple axle, dibandingkan dengan bila dimuatkan pada single axle atau tandem axle akan terjadi :

  • Single ke triple : penurunan daya rusak sebesar 94,7 % (1 – 0,053 = 0,947 = 94,7 %).
  • Tandem ke triple : penurunan daya rusak sebesar 39,5 % (0,086 – 0,053 = 0,033 = 0,033 : 0,086 = 39,5 %).

 

Analisis lebih lanjut atas hasil diatas :

  • Penggunaan tandem truck (sebagai pengganti single truck) dapat memperpanjang masa pelayanan yang menjadi “jatah” angkutan barang dengan truck sebesar 1 : 0,086 = 1,16 kali.
  • Penggunaan triple truck sebagai pengganti tandem truck (pengganti single truck tidak dianalisis karena terlalu “jauh”) dapat memperpanjang yang menjadi “jatah” angkutan barang dengan truck sebesar 0,086 : 0,053 = 1,62 kali.
  • Dengan asumsi bahwa pay load ketiga jenis truck tersebut mempunyai besaran perbandingan secara bertingkat pada klasifikasi MST 10 ton sebagai berikut : 1 (15 – 5,7 = 9,3 ton) untuk truck tunggal, 1,54 (23 – 8,69 = 14,31 ton) untuk tandem truck, dan 2,45 (33 – 10,25 = 22,75 ton) untuk triple truck. Maka dapat diperoleh beberapa hasil analisis sebagai berikut :
  • Konversi jenis truk berdasarkan kesetaraan kapasitas muatan (illegal) sbb :
    • Satu buah triple truck (semi trailler)setara dengan 2,45 buah truck tunggal atau 1,6 buah tandem truck. Dalam perhitungan total, pengaruh angka / digit dibelakang koma akan lebih ter-optimalkan.
    • Pengaruh perubahan atau perbandingan biaya transport Rp / tonKM untuk tiap jenis truck juga akan berpola serupa yang angka akuratnya masih memerlukan perhitungan yang lebih rinci. Dan biaya transport tersebut juga akan dipengaruhi oleh kondisi jalan yang kontributor utamanya adalah kendaraan jenis truck.
  • Dari analisis konversi jenis truck diatas dapat dipetik kesimpulan bahwa pemilihan jenis truck yang salah tidak hanya berdampak pada kecepatan kerusakan jalan (sebagai kerugian Pembina Jalan) tetapi juga kerugian bagi Pengguna Jalan berupa kenaikan biaya transport atau Biaya Operasi Kendaraan BOK (sebagai kerugian masyarakat angkutan barang dengan truck).

(BM)