Mengenal Irigasi Sebagai Syarat Ketahanan Pangan

Komponen penting dalam kehidupan manusia salah satunya adalah air. Air menunjang hampir semua lini kehidupan, tidak hanya pada manusia tetapi semua makhluk hidup yang ada di muka bumi. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air penting untuk dilakukan demi menjamin ketersediaannya. Salah satu pengelolaan sumber daya air yaitu dengan irigasi.

 

Keadaan saat ini seperti penebangan hutan secara masif, pembukaan kebun, pengalihgunaan lahan, pembuangan sampah domestik maupun industri yang sembarangan menyebabkan kualitas dan kuantitas air menurun. Dilansir dari bisnis.com, pada tahun 2018 Indonesia kehilangan mata air sekitar 20 persen hingga 40 presen. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah masyarakat yang semakin meningkat. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan pencatatan sipil per Juni 2021, jumlah rakyat Indonesia sekitar 272 juta jiwa yang naik 2 juta jiwa dari tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah penduduk ini linear dengan kebutuhan air bersih dan pangan yang jika tidak disikapi dengan bijak akan menimbulkan masalah yang serius seperti kelaparan di masyarakat.

 

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Irigasi adalah pengaturan pembagian atau pengaliran air menurut sistem tertentu untuk sawah dan sebagainya. Sistem irigasi yang andal akan menciptakan sistem pangan nasional yang kuat dan dapat mendorong kemajuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan irigasi harus diperhitungkan dan dipertimbangkan dengan baik sehingga hasil yang diperoleh maksimal untuk mewujudkan kedaulatan ketahanan pangan.

 

Sistem irigasi dibuat berdasarkan kebutuhan dan kondisi yang ada di daerah tersebut sehingga terdapat beberapa tipe jaringan. Jaringan irigasi dibagi dalam tiga tingkatan yang dibedakan berdasarkan cara pengaturan pengukuran aliran air dan kelengkapan fasilitasnya. Tingkat pertama yaitu jaringan irigasi sederhana dengan bangunan utama sementara, kemampuan pengukuran debit aliran tergolong jelek, saluran irigasi dan pembuangan tidak terpisah, serta ukuran tidak lebih dari 500 ha. Kelemahan jaringan tingkat ini yaitu pemborosan air dan biaya yang lebih tinggi,

 

Tingkat kedua yaitu jaringan irigasi semiteknis dengan bangunan utama permanen/semi permanen, kemampuan pengukuran debit aliran tergolong sedang, saluran irigasi dan pembuangan tidak terpisah sepenuhnya, serta ukuran area sampai dua ribu hektare. Dalam tingkat semiteknis ini memerlukan banyak peran dari pemerintah karena mencangkup daerah layan yang cukup luas. Tingkat terakhir yaitu jaringan irigasi teknis dengan bangunan utama permanen, kemampuan pengukuran debit sudah dalam kategori baik, saluran irigasi dan pembuangan terpisah, serta ukurannya tidak ada batasan.

 

Dalam jaringan irigasi terdapat beberapa bangunan-bangunan penting yang perlu diketahui. Pertama, bangunan utama digunakan untuk membelokkan air ke dalam saluran yang telah direncanakan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian atau yang lainnya. Kedua, jaringan irigasi yang digunakan untuk mengalirkan air dari saluran yang besar ke saluran yang lebih kecil sehingga sesuai dengan kebutuhan. Ketiga, bangunan sadap yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi pada jumlah dan waktu tertentu. Keempat, bangunan pengatur muka air yang digunakan untuk mengatur debit aliran sehingga konstan sepanjang waktu. Kelima, bangunan pembawa seperti got, gorong-gorong, talang dan lainnya. Dan terakhir bangunan lindung, bangunan ini digunakan untuk melindungi aliran dari limpasan air.

 

Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan irigasi didasarkan pada perhitungan dengan data yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi daerah. Data-data yang diperlukan seperti kebutuhan air, topograsi, hidrologi, morfologi, geologi, mekanika tanah, lingkungan, dan standar perencaan yang ada. Hal-hal tersebut perlu diperhatikan untuk menghasilkan hasil yang maksimal dan mengurangi kemungkinan terjadi kegagalan yang mengakibatkan bencana baru.

Gambar 1. Bangunan Irigasi

Dalam pelaksanaan di lapangan, tentunya bangunan-bangunan irigasi baik teknis maupun non teknis juga tidak akan berfungsi secara maksimal kalau pengelolaannya sembarangan. Di Kabupaten Kulon Progo pada daerah irigasi Kalibawang Sistem misalnya, memiliki luasan 7.103 ha yaitu dari Kapanewon Kalibawang di hulu hingga di Kapanewon Temon di bagian hilirnya, sementara ketersediaan air yang bisa dialirkan dari free intake di Kalibawang hanya 7.000 liter per detik, sedangkan kebutuhannya adalah sekitar 10.000-12.000 liter per detik. Maka dalam pelaksanaannya untuk mencukupi kebutuhan air irigasi di Kulon Progo, dalam pembagiannya air perlu dibuat menjadi 3 Golongan, yaitu untuk Golongan I mulai musim tanam pada bulan Agustus, Golongan II mulai musim tanam bulan November dan Golongan II mulai musim tanam pada bulan Desember.

Gambar 2. Skema Tata Tanam Daerah Irigasi Kalibawang

(Nad.mg.Ugm, edit:AC-SDA)