Upaya Konservasi Sumber Daya Air dengan “WARUNG JAMU”

Bumi dimana kita berpijak terdiri dari 70% air dan 30% daratan. Meskipun prosentase air di bumi lebih besar daripada daratan, tetapi air yang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari manusia keberadaannya hanya 1% dari prosentasi 70% diatas. Dari 70% air yang ada di bumi, 97 % adalah air laut, air yang membeku (glasier dan es kutub) sebanyak 2% dan 1% lagi adalah air tawar di dunia yang terbagi-bagi dalam jumlah yang sangat kecil diantaranya adalah air tanah (0,6%).

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa sebenarnya ketersediaan air  tawar  di permukaan bumi begitu terbatas. Belum lagi adanya peningkatan kebutuhan air seiring pertumbuhan penduduk serta kualitas air yang semakin menurun sebagai dampak adanya pencemaran. Mengingat peranannya yang semakin vital dan strategis, maka pemanfaatan air tanah harus memperhatikan keseimbangan dan pelestarian sumberdaya itu sendiri atau dengan kata lain pemanfaatan air harus berwawasan lingkungan.

Manajemen sumber daya air yang baik sejalan dengan upaya konservasi sumber daya air. Hal ini mutlak diperlukan agar dapat memenuhi kebutuhan manusia sekaligus menjaga kelestariannya. Pengelolaan sumber daya air dalam perkembangannya mengalami empat tantangan utama yang dikenal dengan istilah “WARUNG JAMU” yang merupakan singkatan dari Waktu, Ruang, Jumlah dan Mutu.

Pertama, adalah “WAKTU” merujuk pada kemampuan untuk mengelola sumber daya air pada saat berlebih supaya bisa disimpan dan tidak menimbulkan bahaya dan mengatur agar sumber daya air tetap terjaga/tidak kekurangan pada saat kondisi kering (kemarau). Termasuk pengaturan pola dan Tata Tanam dalam pertanian.

Kedua, adalah “RUANG”, yaitu bagaimana me-manage air yang jatuh di tempat tertentu sehingga dapat dimanfaatkan di manapun dan digunakan secara merata, misalnya dengan membangun embung/ bangunan penampung air lainnya atau biopori sebagai resapan.

Ketiga adalah “JUMLAH”, yaitu bagaimana me-manage air yang datang dalam jumlah yang besar di saat kita tidak membutuhkan banyak dan bagaimana me-manage air tersebut sehingga dapat digunakan saat kita membutuhkan air dalam jumlah yang banyak.

Hal ini mengacu pada kuantitas air yang dibutuhkan dengan cara efisiensi penggunaan air agar lebih merata dan tidak terbuang percuma Keempat yaitu tantangan “MUTU”, di mana kita bisa mendapatkan air baku sesuai dengan kualitas yang disyaratkan baik untuk air minum, irigasi, perikanan, dan lain-lain. Mutu ini terkait dengan kesadaran kita agar tidak membuang sampah/limbah dalam bentuk apapun ke badan air/sungai yang bepotensi menimbulkan pencemaran.

Dalam skala besar, yang sangat berperan dalam upaya konservasi sumber daya air terutama pada wilayah aliran sungai (DAS) supaya dapat dikelola secara berkelanjutan dengan pendekatan terpadu berbasis DAS (Daerah Aliran Sungai) atau WS (Wilayah Sungai) yang dikenal dengan istilah Integrated Water Resources Management (Pengelolaan Sumber Daya Air Terintegrasi).

(hs/SDA/DPUPKP/2021)