JENIS KERUSAKAN JALAN PADA PERKERASAN LENTUR

JENIS KERUSAKAN JALAN PADA PERKERASAN LENTUR

(Bagian Pertama)

Menurut Manual Pemeliharaan Jalan No.03/MN/B/1983 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Bina Marga kerusakan jalan pada perkerasan lentur antara lain sebagai berikut :

1.   Retak (cracking)

Retak adalah suatu gejala kerusakan permukaan perkerasan sehingga akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke lapisan di bawahnya dan hal ini merupakan salah satu faktor yang akan membuat parah suatu kerusakan (Departemen Pekerjaan Umum, 2007). Jenis kerusakan retak dibagi lagi menjadi beberapa jenis antara lain :

1.1   Retak halus ( hair cracking)

Retak halus merupakan retak yang mempunyai lebar celah ≤ 3 mm.

Kemungkinan penyebab kerusakan:

a.   Bahan material kurang baik

b.   Pelapukan permukaan

c.   Tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil

Berikut tampak kerusakan retak halus.

1.2   Retak kulit buaya ( alligator crack)

Retak kulit buaya merupakan retak yang mempunyai celah retak ≥ 3 mm dan saling berangkai menyerupai kulit buaya.

Kemungkinan penyebab kerusakan:

a.   Bahan material kurang baik.

b.   Pelapukan permukaan.

c.   Tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil.

Berikut kerusakan retak kulit buaya.

1.3   Retak pinggir (edge crack)

Retak pinggir merupakan retak dimana terjadi pada sisi perkerasan/dekat bahu dan berbentuk retak memanjang dengan atau tanpa cabang yang mengarah ke bahu.

Kemungkinan penyebab kerusakan:

a.   Drainase kurang baik

b.   Daya dukung tanah tepi kurang baik

c.   Akar tanaman yang tumbuh di tepi perkerasan

Berikut tampak kerusakan retak pinggir.

1.4   Retak sambungan bahu perkerasan (edge joint crack)

Retak ini umumnya terjadi pada daerah sambungan perkerasan dengan bahu yang beraspal.

Kemungkinan penyebab kerusakan:

a.   Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan

b.   Drainase kurang baik

c.   Penyusutan material badan perkerasan jalan

d.   Material pada bahu yang kurang baik

 

Berikut tampak kerusakan retak sambungan bahu perkerasan.

 

1.5   Retak sambungan jalan (lane joint crack)

Retak sambungan jalan merupakan retak yang terjadi pada sambungan dua jalur lalu lintas dan berbentuk retak memanjang.

Kemungkinan penyebab kerusakan adalah ikatan sambungan kedua jalur yang kurang baik. Berikut kerusakan retak sambungan jalan.

1.6   Retak sambungan pelebaran jalan (widening crack)

Retak sambungan pelebaran  adalah retak memanjang yang akan terjadi pada sambungan antara pekerasan lama dengan perkerasan pelebaran. Kemungkinan penyebab kerusakan adalah pegerakan vertikal/horizontal di bawah lapis tambahan sebagai akibat adanya perubahan kadar air pada tanah dasar yang ekspansif. Berikut tampak kerusakan sambungan pelebaran jalan.

1.7   Retak refleksi (reflection crack)

Retak refleksi merupakan retak yang terjadi pada lapisan tambahan (overlay), dan berbentuk memanjang (longitudinal cracks), diagonal (diagonal cracks), melintang (transverse cracks), atupun kotak (block cracks) yang menggambarkan pola retakan perkerasan dibawahnya.

1.8   Retak susut (shrinkage crack)

Retak susut merupakan retak yang terjadi saling bersambungan membentuk kotak besar dengan sudut tajam atau dapat dikatakan suatu interconnected crack yag membentuk suatu seri blocks crack.

Kemungkinan penyebab kerusakan:

a.   Perubahan volume perkerasan yang mengandung terlalu banyak aspal dengan penetrasi rendah.

b.   Perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar.

1.9   Retak selip (slippage crack)

Retak selip merupakan retak yang menyerupai bulan sabit atau berbentuk seperti jejak mobil disertai dengan beberapa retak.

Kemungkinan penyebab kerusakan:

a.   Penggunaan agregat halus terlalu banyak

b.   Lapis permukaan kurang padat

c.   Penghamparan pada temperatur aspal rendah

d.   Ikatan antar lapisan aspal dengan lapisan bawahnya tidak baik yang disebabkan kurangnya aspal

Berikut kerusakan retak selip.

 

(Bersambung)

Oleh:Martin