PROGRAM SANIMAS REGULER APBN 2021 DI KABUPATEN KULON PROGO

Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) Reguler terus mengalami peningkatan progres di seluruh lokasi sasaran, tidak terkecuali di Kabupaten Kulon Progo. Pembangunan dan Penyesdiaan Sarana Sanitasi berupa sistem pengolahan air limbah domestik (SPALD) ini terus giatkan pembangunan sarana toilet bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan permukiman padat penduduk, kumuh, dan rawan dalam risiko sanitasi.

Adapun Mekanisme penyelenggaraan program SANIMAS menerapkan pendekatan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat melalui keterlibatan masyarakat secara utuh dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pengorganisasian masyarakat, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sampai dengan upaya keberlanjutan, khususnya didalam peningkatan kualitas sarana dan prasarana sanitasi.

 

Gambar 1. IPAL Skala Permukiman 80-100 KK di Dusun Kriyanan, Wates.

Selain pembangunan sarana prasarana, Pada tahun 2021, Kabupaten Kulon Progo yang mendapatkan program SANIMAS 2 lokasi, yakni di Dusun Kriyanan RW. 06 , Wates oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Karya Bhakti Lestari, serta di Kalurahan Karangwuni oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Marsudisiwi,  Program SANIMAS di kedua kalurahan tersebut mempunyai tujuan mengurangi pencemaran air tanah/sumur dan BAB sembarangan serta tertanganinya permasalahan limbah domestic yang tidak terlayani IPAL terpusat serta terbangunnya sarana dan prasarana sanitasi yang memadai.

Adapun setelah pembangunan fisik selesai selanjutnya masuk ke tahapan uji kelayakan sarana sanitasi. Pelaksanaan uji kelayakan dilakukan secara bertahap dan tidak serentak di seluruh unit. Tahap uji kelayakan atau yang biasa disebut Commisioning Test dilakukan untuk memastikan bahwa sarana dan prasarana sanitasi nantinya dapat digunakan oleh masyarakat atau berfungsi sesuai rencana pembangunan. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan KSM yang  didampingi oleh TFL (tenaga fasilitator lapangan) dan Faskab, Pemerintah Desa serta stakeholder setempat.

 

Beberapa Hal yang harus diperhatikan dan disiapkan dalam commissioning test adalah sarana IPAL harus terisi air penuh dan media filter sudah terpasang. Pengujian yang harus dilakukan dalam uji kelayakan ini diantaranya adalah pertama uji kebocoran tangki septik dimana tangki septik yang sudah terisi air dengan penuh dan filter yang sudah terpasang didiamkan selama minimal 24 jam. Setelah itu dilakukan pengecekan apakah terjadi penurunan atau tidak, untuk batas penurunan yang diijinkan adalah 2 cm dengan asumsi terjadi penguapan.

 

Gambar 2. Commisioning test , Pengangkatan tutup manhole beton

 

Kedua, uji kemiringan lantai toilet. Jika lantai disiram air tidak terjadi genangan di lantai toilet dan air mengalir menuju floor drain. Ketiga, uji kemiringan pipa dimana ketika kloset disiram, air bisa mengalir ke pipa tangki septik agar tidak terjadi sumbatan di dalam pipa dengan kemiringan pipa 2%.

 

Ketiga, uji sumur resapan. Ketika air dari tangki septik mengalir ke sumur resapan harus terserap sempurna. Terakhir, uji grease trap dimana ketika floor drain disiram, air bisa mengalir ke inlet grease trap yang dipasang. Pipa elbow 90° dipasang terendam sampai masuk melewati permukaan air dan keluar ke inlet sumur resapan.

 

Gambar 3. Commisioning test , Pengecekan Kualitas Endapan

 

Melalui pembangunan secara bertahap, dan peningkatan pelayanan fasilitas sanitasi ini diharapkan segala permasalahan sanitasi dan pengelolaan limbah dapat teratasi. Dengan fasilitas sanitasi yang memadai dan melalui Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) yang relevan juga diharapkan pencemaran lingkungan akan berkurang. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) akan tertanam di masyarakat desa sehingga juga ikut  membantu menurunkan angka stunting atau gizi buruk. (CK)