Mengenal Bangunan Irigasi : Saluran Pembawa (Bagian 2)

Saluran pembawa dimulai dari bangunan penangkap air atau intake pada bangunan bendung yang mengalirkan air untuk diberikan kedaerah pertanian. Pada awal saluran, dimensi saluran masih besar karena harus membawa seluruh air untuk kebutuhan seluruh daerah irigasi, kemudian saluran ini pecah terbagi menjadi dua atau tiga saluran yang lebih kecil. Seterusnya saluran-saluran cabang ini pecah lagi menjadi dua atau tiga yang lebih kecil sesuai debit yang dialirkan dan terus ke petak tanah yang diairi (sawah).

Macam saluran pembawa irigasi dapat dibedakan berdasarkan posisi dan arah mengalir dari saluran (Gambar 1.1), yaitu:

1.  Saluran punggung

Posisi saluran irigasi mengalirkan air pada punggung medan dengan kemiringan mengarah kearah kontur yang lebih rendah. Saluran punggung umumnya merupakan pencabangan dari saluran garis tinggi.

2.  Saluran mengalir ke samping

Posisi saluran ini menyerong dari punggung, akan tetapi tidak mengikuti garis tinggi ataupuan searah dengan garis tinggi

Gambar 1.1 : Posisi Saluran Garis Tinggi, Pungung, dan Saluran Menyamping

3. Saluran garis tinggi

Arah mengalir dan posisi saluran hampir mengikuti garis tinggi medan. Saluran ini mempunyai kemiringan dasar saluran sesuai dengan kebutuhan rencana untuk mendapatkan kecepatan aliran yang diinginkan.

Saluran garis tinggi banyak dipergunakan pada daerah pegunungan dimana saluran ini ditempatkan pada kaki bukit atau pada lereng gunung untuk membawa air dari suatu sumber ke lokasi di mana air tadi akan diberikan ke lahan pertanian yang lokasinya jauh dari sumber tetapi perbedaan elevasinya tidak besar. Contoh: Saluran Ngluweng dari DAM Ngluweng ke Telaga Sarangan (Gambar 1.2)

Gambar 1.2 : Saluran Garis Tinggi

Saluran garis tinggi pada daerah pegunungan akan mengalami penambahan debit dari aliran permukaan yang datang akibat hujan yang turun pada daerah bagian atas saluran dan dari mata air yang keluar dari tebing atas sebagai air yang lepas dari air bebas yang tadinya merupakan air gravitasi kemudian keluar memotong tebing keprasan diatas saluran. Tambahan air dari hujan sangat besar dan kalau masuk ke saluran irigasi sangat berbahaya sebab dapat mengakibatkan over toping yang akan membuat tanggul luar tergerus sehingga dapat terjadi longsoran yang dapat memutuskan saluran.

Apabila saluran garis tinggi putus maka akan sangat sulit untuk membangun kembali, sebab lokasinya berada di atas kaki gunung. Kemungkinan lain untuk mendapatkan air kembali, dengan menyambung saluran dengan menggunakan bangunan bantu berupa talang swperti yang pernah dilakukan pada Saluran Talun ketika mengalami longsor pada tahun tujuh puluhan. Saluran tersebut masih bisa disambung dengan menggunakan talang beton (Gambar 1.3).

Gambar 1.3 : Talang untuk Air Pematusan

Air pematusan dari atas tidak boleh masuk ke dalam saluran irigasi karena air pematusan membawa sampah dan sedimen yang jumlahnya cukup besar. Air ini dialirkan kesaluran pematusan yang bisanya disebut Saluran Keliling atau saluran sabuk yang menyertai saluran garis tinggi dan ditempatkan pada sisi kearah atas tebing (Gambar 1.4).

Gambar 1.4 : Pelimpah Samping pada Saluran Garis Tinggi

Saluran sabuk yang menyertai saluran garis tinggi dan ditempatkan pada sisi kearah atas tebing. Saluran keliling ini tidak boleh mengikuti terus saluran garis tinggi karena kalau terlalu panjang debit yang ada akan bertambah dan melimpah masuk kesaluran garis tinggi. Dengan menggunakan talang kecil dari beton bertulang, air dari saluran keliling dibuang keluar tebing. Menjaga agar tidak terjadi limpahan air diatas tanggul luar saluran garis tinggi maka setiap jarak 200 m, harus dibuat pelimpah samping untuk mengembalikan debit yang melalui saluran kembali pada debit rencana sesuai kemampuan saluran (Gambar 1.5).

Gambar 1.5 : Saluran punggung

Saluran punggung penempatannya dalam galian tanah pada pungung medan. Penempatan posisi saluran ini terhadap permukaan tanah tergantung pada elevasi permukaan air yang direncanakan terhadap permukaan tanah setempat. Dalam hal ini posisi permukaan air yang dibutuhkan berada pada dibawah permukaan tanah setempat. Apabila diperlukan suatu kondisi dimana elevasi permukaan air irigasi rencana dan dasar saluran berada diatas permukaan tanah setempat, maka saluran punggung akan terletak diatas timbunan (Gambar 1.6)

Gambar 1.6 : Saluran punggung di atas timbunan

Pada beberapa kondisi kemungkinan posisi permukaan air irigasi akan berada diatas permukaan tanah setempat, namun dasar saluran berada pada elevasi dibawah permukaan tanah. Hal ini dikatakan saluran punggung sebagian di atas galian dan sebagian dalam galian (Gambar 1.7)

Gambar 1.6 : Saluran punggung sebagian dalam galian

Menyeimbangkan antara tingginya timbunan dan galian pada suatu alur saluran maka pada pososi tertentu diperlukan bangunan terjun (drop structure) dimana pada lokasi ini merupakan tempat peralihan dari kondisi timbunan ke posisi galian.

Gambar 1.7 : Bangunan terjun

Bangunan terjun memindahkan dasar saluran dari posisi di atas ke posisi yang lebih rendah. Ada persyaratan hidrolis tinggi maksimum terjunan yang diperkenankan untuk bangunan terjun, sehingga posisi bangunan ini harus benar-benar tepat dalam batasan persyaratan hidrolis. (w-SDA)

SUMBER : Mohamad Bagus Ansori- Irigasi dan Bangunan Air                       (https://www.researchgate.net/publication/323335382)