KONSEPSI KEAMANAN BENDUNGAN (bagian 2)

Bendungan dianggap aman apabila pembangunan dan pengelolaannya telah dilaksanakan sesuai dengan konsepsi keamanan bendungan dan kaidah-kaidah keamanan bendungan yang tertuang dalam norma / peraturan perundang-undangan, standar SNI, pedoman dan manual (NPSM) yang berlaku. Konsepsi keamanan bendungan memiliki 3 pilar yaitu : (1) keamanan struktur, (2) pemantauan, pemeliharaan, dan operasi, (3) kesiapsiagaan tindak darurat.

PILAR I : KEAMANAN STRUKTUR

Bendungan harus didesain dan dikonstruksi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, aman terhadap kegagalan struktur (structural failure), aman terhadap kegagalan hidraulis (hydraulic failure), dan aman terhadap kegagalan rembesan (seepage failure). Untuk lebih detailnya bisa klik link https://dpu.kulonprogokab.go.id/detil/565/konsepsi-keamanan-bendungan-bagian-1

PILAR II : PEMANTAUAN, PEMELIHARAAN, DAN OPERASI

Bendungan yang telah didesain dan dikonstruksi dengan baik akan menghasilkan bangunan yang layak teknis atau memenuhi persyaratan keamanan struktur bendungan yaitu : aman terhadap kegagalan struktural, aman terhadap kegagalan hidraulis, dan aman terhadap kegagalan rembesan dengan tingkat resiko kegagalan yang wajar (kecil). Namun bendungan akan selalu mendapatkan ancaman dari fenomena alam berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor, proses penuaan atau kemerosotan mutu pada bangunan dan pondasi dan juga mendapat ancaman dari aktifitas makhluk hidup. Selama masa operasi bendungan, keamanan struktur bendungan harus tetap dipertahankan melalui kegiatan : pemantauan, pemeliharaan, dan operasi bendungan.

a. PEMANTAUAN

Bendungan akan selalu memperoleh ancaman dari fenomena alam, dan sejalan dengan perjalanan waktu secara alami juga akan terjadi penuaan (aging) atau perubahan pada karakteristik struktur karena proses kemerosotan mutu (deterioration). Kemerosotan mutu dapat terjadi karena bendungan dan bangunan pelengkapnya selalu diterpa dengan perubahan cuaca panas, dingin, hujan yang silih berganti ataupun karena kondisi internal bendungan. Biasanya perubahan berjalan dengan lambat dan tidak langsung dapat diamati secara visual. Dengan pemantauan atau monitoring perilaku bendungan secara menerus, biasanya gejala perubahan yang merugikan dapat segera diketahui.

Disamping itu bendungan juga sering mendapat ancaman gangguan dari aktifitas makhluk hidup (manusia, binatang, tumbuhan) yang cenderung akan memperlemah konstruksi bendungan. Oleh karenanya bendungan harus selalu dipantau, untuk mengetahui sedini mungkin setiap problem yang berkembang sebelum menjadi ancaman yang nyata bagi keamanan bendungan.

contoh kegiatan pemantauan bendungan adalah mengamati deformasi bendungan

Tujuan pemantauan adalah untuk mengetahui sedini mungkin problem yang sedang berkembang sebelum menjadi ancaman nyata bagi keamanan bendungan, hingga dapat diambil langkah perbaikan secara cepat dan tepat.

Untuk mencegah terjadinya penurunan mutu secara cepat, bendungan harus dipelihara dengan baik, dengan pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala atau terjadwal, dan perbaikan. Pada kondisi bendungan yang telah sangat menurun, perlu dilakukan rehabilitasi, agar kondisi bendungan kembali seperti sediakala selalu siap dan aman untuk dioperasikan pada semua kondisi operasi.

Pemantauan bendungan memiliki 3 kegiatan pokok yaitu :

  • Pengukuran instrument dan evaluasi datanya,
  • Pemeriksaan bendungan
  • Uji operasi terhadap semua peralatan yang mendukung keamanan bendungan.

 

b. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN DAN REHABILITASI

Pemeliharaan

Agar bendungan selalu dalam kondisi baik, berfungsi seperti yang direncanakan, siap dan aman dioperasikan pada semua kondisi operasi, bendungan perlu dirawat atau dipelihara. Pemeliharaan merupkan pekerjaan yang diperlukan untuk memelihara bangunan dan sistem yang ada, mencakup : bangunan sipil, peralatan mekanik, listrik, hidrolik agar tetap dalam kondisi aman dan berfungsi baik.

Setiap bendungan harus memiliki program pemeliharaan rutin / tahunan, berkala / terjadwal jangka menengah (5 tahunan) dan jangka panjang (20 s/d 30 tahun) untuk tubuh bendungan, bang pelengkap dan peralatan (sesuai referensi pabrik), serta kebutuhan bahan dan peralatan khusus yang diperlukan untuk pemeliharaan. Program pemeliharaan dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan dan uji operasi.

contoh kegiatan pemeliharaan bendungan

Akibat pengaruh cuaca, lingkungan dan umur pakai, konstruksi bendungan dan komponen-komponen bendungan akan mengalami penurunan mutu / penuaan. Laju penurunan mutu konstruksi bendungan dapat dikurangi dengan kegiatan pemeliharaan yang baik.

 

Perbaikan

Dengan bertambahnya umur bendungan, juga akan terjadi kerusakan pada bendungan atau komponen bendungan. Untuk mencegah berkembangnya kerusakan menjadi lebih parah dan mengembalikan fungsinya seperti semula, kerusakan yang terjadi perlu segera diperbaiki. Perbaikan bendungan harus dijadwalkan berdasar: tingkat keparahan kerusakan, ketersediaan sumber daya (biaya, alat, SDM) yang tersedia dan kondisi cuaca

contoh kegiatan perbaikan bendungan

 

Rehabilitasi

Bila kerusakan terjadi sudah sedemikian parah sehingga berpengaruh pada keamanan struktur mendasar bendungan, pemilik bendungan perlu segera mengambil langkah pengamanan bendungan dengan melakukan rehabilitasi bendungan untuk mengembalikan kondisi bendungan seperti kondisi semula.

 

c. OPERASI BENDUNGAN

Pada dasarnya yang dimaksud dengan operasi bendungan adalah merupakan operasi waduk yang dilakukan dengan cara mengatur pengeluaran air waduk melalui pintu-pintu atau katup pada bangunan pelengkap, yang terdiri dari :

  • Bangunan sadap / intake;
  • Bangunan pelimpah;
  • Sarana pengeluaran darurat (emergency release).

Jenis operasi waduk, dibedakan menjadi :

  • Operasi normal / operasi harian rutin : operasi sehari-hari sesuai dengan rencanan operasi tahunan untuk melayani kebutuhan air dihilir.
  • Operasi darurat : operasi waduk yang dilakukan untuk merespon suatu kejadian yang dapat mengancam keamanan dan keutuhan bendungan. Operasi ini dilakukan dengan cara penurunanan muka air waduk secara cepat sampai elevasi yang aman, melalui pintu pengeluaran darurat dan atau pintu-pintu pengeluaran yang lain seperti pintu pelimpah dan pintu intake.
  • Operasi banjir di waduk : operasi banjir di waduk hanya dilakukan pada bendungan yang dilengkapi dengan bangunan pelimpah berpintu. Operasi ini dilakukan dengan pengoperasian pintu-pintu pelimpah saat musim banjir untuk menjaga / mempertahankan agar muka air waduk berada pada elevasi yang aman / sesuai dengan pola operasi waduk.
  • Operasi banjir dalam rangka pengendalian banjir daerah hilir : operasi dilakukan dengan pengoperasian pintu-pintu pelimpah dengan cara menahan atau menampung air banjir di waduk dan mengeluarkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan kapasitas palung sungai dan debit sungai di hilir. Untuk meningkatkan volume tampungan banjir, pada awal musim banjir muka air waduk diturunkan. Operasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan debit puncak banjir dan memperlambat datangnya banjir di daerah hilir. Pada kondisi darurat atau kondisi yang dapat mengancam keamanan bendungan, operasi bendungan harus diutamakan untuk pengamanan bendungan. (r-sda)

 

Sumber : Modul Pengaturan dan Konsepsi Keamanan Bendungan Kementerian PUPR