Panduan Pemilihan Teknologi Pemeliharaan Preventif Perkerasan Jalan (Bagian 1)

Ruang Lingkup

Pemeliharaan berada pada ruas jalan dengan kondisi mantap, dan khususnya pada ruas jalan yang sudah diindikasikan terjadi penurunan kondisi ditangani melalui pemeliharaan preventif, dalam menunda laju penurunan kondisi perkerasan jalan. Hal ini dipandang lebih menguntungkan secara biaya jika dibandingkan penanganan reaktif, sehingga akan berdampak signifikan terhadap keseluruhan program pembiayaan pemeliharaan. Beberapa keuntungan lain pemeliharaan preventif yaitu:

  1. Mengurangi kerusakan di masa mendatang;
  2. Mempertahankan atau meningkatkan kondisi fungsional dari perkerasan;
  3. Memperpanjang masa layan perkerasan sesuai umur rencana.

Panduan ini akan menuntun Perencana dan Pelaksana dalam mengambil keputusan terkait penggunaan teknologi pemeliharaan preventif yang paling tepat berdasarkan jenis, tingkat, dan sebaran kerusakan pada ruas jalan tinjauan. Teknologi pemeliharaan preventif perkerasan jalan beraspal di dalam panduan ini meliputi pengabutan (fog seal), Chip Seal, lapis penutup dengan bubur aspal emulsi (slurry seal), lapis permukaan mikro (microsurfacing), dan lapis tipis beton aspal (LTBA). Sedangkan pemeliharaan preventif pada perkerasan jalan beton diantaranya penutupan ulang sambungan dan penutupan retak (joint & crack sealing), penstabilan dan pengembalian elevasi pelat beton dengan cara grouting (slab stabilization and jacking), penjahitan melintang (cross-stitching), restorasi penyaluran beban (dowel retrofit), penambalan dangkal perkerasan beton bersambung tanpa tulangan (partial depth repair), dan penambalan penuh perkerasan beton bersambung tanpa tulangan (full depth repair).

Kondisi perkerasan yang tepat Pemeliharaan preventif perkerasan jalan hanya dapat diterapkan pada ruas jalan berpenutup untuk perkerasan lentur dan perkerasan kaku dalam kondisi mantap dengan tanah dasar yang stabil. Beberapa kondisi perkerasan yang direkomendasikan untuk dilakukan penanganan pemeliharaan preventif perkerasan jalan diantaranya:

  1. Kondisi struktural masih stabil;
  2. Perkerasan yang telah mengalami oksidasi;
  3. Sudah mengalami pengausan;
  4. Sudah mengalami pelepasan butir ringan, atau warnanya memudar;
  5. Sudah terjadi alur dan retak pada perkerasan lentur;
  6. Terjadi pumping di bawah slab dekat sambungan perkerasan kaku.

Pemeliharaan preventif jalan tidak ditujukan untuk menambah kekuatan struktur perkerasan, maka dari itu perlu diidentifikasi terlebih dahulu agar tidak salah dalam memilih lokasi perkerasan yang akan ditangani pemeliharaan preventif. Sebagai indikator dalam kegiatan pemeliharaan preventif pada perkerasan jalan, identifikasi kerusakan permukaan jalan (baik pada perkerasan lentur maupun perkerasan kaku) dinilai berdasarkan jenis, tingkat, dan sebaran kerusakan yang terjadi, sehingga dapat ditentukan jenis penanganan yang paling sesuai. (BM)

(Sumber : https://binamarga.pu.go.id/)