Rumah, Perumahan, dan Permukiman bagian 2

Rumah, Perumahan, dan Permukiman bagian 2

(disarikan dari berbagai sumber (arjunawiwaha;andidibyawidadi))

Bidang Perumahan dan Permukiman

Lokasi permukiman sangat berpengaruh terhadap perkembangan permukiman. Lokasi permukiman yang layak menjadi hal yang sangat mempengaruhi kualitas dari permukiman itu sendiri. Hal yang sama mengenai persyaratan lokasi permukiman juga dijelaskan oleh Joseph De Chiara dimana dalam pemilihan tapak untuk perumahan agar tercapai perumahan sehat adalah :

A.   Sifat Khas Fisis Tapak yang Penting

i.  Kondisi tanah dan bawah tanah

Kondisi bawah tanah harus sesuai untuk pekerjaan galian dan persiapan, peletakan jaringan utilitas serta pelandaian dan penanaman, memberikan daya dukung yang baik untuk penghematan konstruksi bangunan yang akan dibangun. Untuk menghemat konstruksi, sebaiknya lapisan bawa tanah tidak mengandung batuan keras atau rintangan lain.

ii. Air tanah dan drainase

Muka air tanah yang relatif rendah untuk untuk melindungi bangunan dari genangan pada kolong bangunan dan gangguan air selokan, tidak adanya rawa, dan kelandaian lereng yang cukup memungkinkan penyaluran curah hujan permukaan normal dan kelancaran aliran air selokan.

iii.     Keterbebasan dari banjir permukaan

Daerah pembangunan harus terbebas dari bahaya banjir permukaan yang disebabkan oleh sungai, danau atau air pasang.

iv.      Kesesuaian penapakan bangunan yang akan direncanakan

Lahan tidak boleh terlalu curam demi kebaikan kelandaian dalam kaitannya dengan kostruksi hunian. Tapak bangunan tidak boleh mempunyai ketinggian melebihi kemampuan jangkuan air untuk keperluan rumah tangga dan penanggulangan kebakaran.

v.      Kesesuaian untuk akses dan sirkulasi

Topografi harus memungkinkan pencapaian yang baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki, ke dan di dalam tapak. Topografi juga harus memungkinkan pelandaian sesuai standar yang ada.

vi.     Kesesuaian untuk pembangunan ruang terbuka

Lahan untuk halaman pribadi, tempat bermain dan taman lingkungan harus memungkinkan pelandaian dan pembangunan yang sesuai dengan spesifikasi.

vii.    Keterbatasan dari bahaya kecelakaan topografi

Daerah yang akan dibangun hendaknya bebas dari kondisi topografi yang dapat menyebabkan kecelakaan, seperti galian, lubang yang menganga, dan garis pantai yang berbahaya.

 

B.  Ketersediaan Pelayanan Saniter dan Perlindungan

i.      Persediaan air dan pembuangan air selokan saniter

Sistem persediaan air dan pembuangan harus dipandang sebagai pelayanan saniter jangka panjang dan bukan hanya sekedar instalasi fisis. Penyetujuan dini dari pihak berwenang dibidang kesehatan merupakan prasyarat untuk pembuatan fasilitas pembuangan air kotor pada tapak dan untuk usulan pengembangan jaringan air maupun selokan yang akan melayani tapak tersebut.

ii.      Pembuangan sampah

Apabila pelayanan sampah kota dapat diadakan, maka pemilihan tapak yang menyangkut hal ini tidak akan menemui masalah. Tetapi kebutuhan fasilitas pengolahan sampah pada tapak atau di sekitar tapak untuk penguburan, pembakaran dan proses kimiawi memerlukan upaya penelaahan untuk pengalaman. Masalah yang utama adalah pemisahan lahan untuk pembuangan, penghindaran bau-bauan yang disebar oleh angin serta penggunaan metode pembuangan untuk mencegah bersarangnya tikus dan pembiakan serangga.

iii.     Listrik, bahan bakar dan komunikasi

Listrik sangat penting untuk setiap rumah, tetapi karena pelayanan listrik biasanya dapat diperluas untuk suatu pembangunan dan dapat dibangkitkan apabila diperlukan maka listrik jarang menimbulkan masalah dalam pemilihan tapak. Gas tidak dianggap sebagai utilitas yang penting. Apabila keperluan gas berada di luar jangkauan jaringan pelayanan, maka tabung gas bertekanan tinggi yang mudah diangkut dapat digunakan. Pelayanan telepon dan listrik dapat diperluas untuk tapak yang memerlukannya.

iv.     Pengamanan oleh polisi dan penyelamat kebakaran

Kelayakan perlindungan oleh polisi tidak begitu terpengaruh oleh lokasi, tetapi seperti halnya perlindungan terhadap kebakaran, apabila letak tempatnya terisolir maka segi pembiayaan harus diperhitungkan.

 

C.  Keterbatasan Dari Bahaya dan Gangguan Setempat

i.      Bahaya kecelakaan

Bahaya utama kecelakaan utama adalah tabrakan dengan kendaraan bermotor lainnya, bahaya api dan ledakan, jatuh, dan tenggelam.

ii.     Kebisingan dan getaran

Kebisingan yang berlebihan, kadang-kadang disertai getaran biasanya dihasilkan oleh jalan kereta api, bandar udara, lalu lintas, industri berat, peluit kapal, dan sebagainya. Perumahan tidak boleh terletak pada tapak yang terus menerus dilanda kebisingan yang tidak terkendali, terutama di malam hari.

iii.     Bau-bauan, asap dan debu

Sumber bau-bauan yang tidak sedap biasanya adalah :

- Pabrik, industri, terutama rumah potong hewan, penyamakan kulit dan pabrik yang menghasilkan produk dari binatang; industri karet, kimia dan pupuk, pewarnaan atau pencucian tekstil; pabrik kertas, sabun dan cat; dan pabrik gas.

- Tempat pembuangan sampah, terutama apabila proses pemusnahan melibatkan pembakaran.

- Sungai yang dikotori air selokan, atau instalasi pengolahan tinja yang tidak berjalan dengan sempurna.

- Peternakan, terutama babi dan kambing, terutama apabila dipelihara secara berdesak-desakan dan dalam keadaan kotor.

- Asap lalu lintas kendaraan bermotor dan kereta api dengan bahan bakar batubara. Sumber asap dan debu yang sering dijumpai adalah industri, jalur kereta api, tempat pembuangan dan kebakaran sampah.

(Dirangkum dari: Joseph De Chiara; Lee E. Koppelman. Standar Perencanaan Tapak. 1994. Hal: 91-95)

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman

Keberadaan suatu permukiman dapat mempengaruhi berkembangnya suatu wilayah, dan sebaliknya kegiatan pembangunan dalam suatu wilayah dapat mempengaruhi berkembangnya permukiman. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman cukup banyak, antara lain faktor geografis, faktor kependudukan, faktor kelembagaan, faktor swadaya dan peran serta masyarakat, faktor keterjangkauan daya beli, faktor pertanahan, faktor ekonomi dan moneter. Faktor lainnya yang berpengaruh terhadap pembangunan perumahan adalah adanya perubahan nilai-nilai budaya masyarakat. (Sumber: “Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, Nomor 12.April 1994)

i.    Faktor geografi

Letak geografis suatu permukiman sangat menentukan keberhasilan pembangunan suatu kawasan. Permukiman yang letaknya terpencil dan sulit dijangkau akan sangat lambat untuk berkembang. Topografi suatu kawasan juga berpengaruh, jika topografi kawasan tersebut tidak datar maka akan sulit bagi daerah tersebut untuk berkembang. Lingkungan alam dapat mempengaruhi kondisi permukiman, sehingga menambah kenyamanan penghuni permukiman.

ii.   Faktor Kependudukan

Perkembangan penduduk yang tinggi, merupakan permasalahan yang memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pembangunan permukiman. Jumlah penduduk yang besar merupakan sumber daya dan potensi bagi pembangunan, apabila dapat diarahkan menjadi manusia pembangunan yang efektif dan efisien. Tetapi sebaliknya, jumlah penduduk yang besar itu akan merupakan beban dan dapat menimbulkan permasalahan bila tidak diarahkan dengan baik. Penyebaran penduduk yang tidak merata, merupakan permasalahan lain yang berpengaruh terhadap pembangunan perumahan.

iii.  Faktor Kelembagaan

Faktor lain yang berpengaruh terhadap pembangunan perumahan adalah perangkat kelembagaan yang berfungsi sebagai pemegang kebijakan, pembinaan, dan pelaksanaan baik sektor pemerintah maupun sektor swasta, baik pusat maupun daerah. Secara keseluruhan, perangkat kelembagaan tersebut belum merupakan suatu sistem terpadu. Menurut UU No. 5 Tahun 1979, Pemda memegang peranan dan mempunyai posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan perumahan. Namun unsur-unsur perumahan di Tingkat Daerah yang melaksanakan program khusus untuk koordinasi, baik dalam koordinasi vertikal maupun horisontal dalam pembangunan perumahan, masih perlu dimantapkan dalam mempersiapkan aparaturnya. Termasuk didalamnya adalah kebijaksanaan yang mengatur kawasan permukiman, keberadaan lembaga-lembaga desa, misalnya LKMD, Karang Taruna, Kelompok wanita dan sebagainya.

iv.  Faktor Swadaya dan Peran Serta Masyarakat

Dalam rangka membantu golongan masyarakat berpenghasilan rendah, menengah, tidak tetap, perlu dikembangkan pembangunan perumahan secara swadaya masyarakat yang dilakukan oleh berbagai organisasi atau lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah. Masyarakat yang berpenghasilan rendah dan tidak berkemampuan mampu membangun rumahnya sendiri dengan proses bertahap maupun melalui program-program yang berkolaborasi dengan organisasi atau lembaga.

v.   Sosial dan Budaya

Faktor sosial budaya merupakan faktor internal yang mempengaruhi perkembangan permukiman. Sikap dan pandangan seseorang terhadap rumahnya, adat istiadat suatu daerah, kehidupan bertetangga, dan proses modernisasi merupakan faktor-faktor sosial budaya. Rumah tidak hanya sebagai tempat berteduh dan berlindung terhadap bahaya dari luar, tetapi berkembang menjadi sarana yang dapat menunjukkan citra dan jati diri penghuninya. Aspek sosial budaya juga meliputi kehidupan sosial masyarakat, kehidupan bertetangga, gotong royong dan pekerjaan bersama lainnya.

v.   Ekonomi dan Keterjangkauan Daya Beli

Aspek ekonomi berkaitan dengan mata pencaharian. Tingkat perekonomian suatu daerah akan mempengaruhi tingkat pendapatan seseorang. Makin tinggi pendapatan sesorang, makin tinggi pula kemampuan orang tersebut dalam memiliki rumah. Keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap suatu rumah akan mempengaruhi perkembangan permukiman.

vii. Sarana dan Prasarana

Kelengkapan sarana dan prasarana dari suatu perumahan dan permukiman akan mempengaruhi perkembangan permukiman di suatu wilayah karena akan memudahkan penduduknya untuk beraktivitas sehari-hari. Semakin lengkap sarana dan prasarana maka semakin banyak orang yang berkeinginan bertempat tinggal di daerah tersebut.

viii.   Pertanahan

Kenaikan harga lahan sebagai akibat semakin berkurangnya lahan untuk permukiman berpengaruh terhadap ketersediaan tempat tinggal dan jika tida disikapi dengan tepat dapat memunculkan area-area kumuh atau penggunaan lahan yang tidak sesuai fungsinya.

ix.   Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dengan diciptakannya teknologi-teknologi baru dalam bidang jasa konstruksi dan bahan bangunan maka membuat pembangunan suatu rumah akan semakin cepat, murah, dan dapat menghemat waktu. Sehingga semakin banyak pula orang-orang dapat memiliki tempat tinggal.