*KARANTINA, ISOLASI, DAN SWAB*

*KARANTINA, ISOLASI, DAN SWAB*

Tiga kata ini semakin sering kita dengar pada akhir-akhir ini, khususnya pada saat tengah gencarnya melakukan pencegahan penyebaran covid. Karantina diartikan sebagai pemisahan seseorang yang diduga terpapar covid, sedangkan isolasi diartikan sebagai pemisahan seseorang yang sudah dipastikan/terkonfirmasi positif covid. Karantina dan isolasi dimaksudkan untuk mencegah penyebaran covid menular kepada orang lain. Adapun swab adalah cara/metode untuk mengetahui seseorang positif covid atau tidak. Karantina, isolasi, dan swab menjadi menarik dan penting untuk dipelajari lebih mendalam karena masih banyak tanggapan masyarakat yang beragam, bahkan ada kecenderungan abai dengan berbagai alasannya masing². Dampak dari ini semua, antara lain: adanya orang yang diduga terpapar covid masih bebas beraktivitas/bekerja seperti biasa, adanya kasus positif covid yang tidak berhenti (silih berganti), adanya kasus positif covid yang bertambah terus, dll.

Ketika terjadi kasus seseorang positif covid, maka kemudian terjadi kehebohan diantara orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang yang kontak/berinteraksi kepada yang bersangkutan. Kemudian orang-orang tersebut beramai-ramai melakukan pemeriksaan swab (biasanya yang dilakukan swab antigen). Ketika hasil pemeriksaan swab antigen negative, legalah mereka, mereka merasa sehat, mereka merasa tidak terpapar covid, lalu mereka bisa beraktivitas/bekerja seperti biasa. Padahal pemeriksaan swab antigen negative ini belum tentu yang bersangkutan benar-benar tidak terpapar covid, karena alat swab antigen hanya mampu mendeteksi jika nilai CT dibawah 25 (yang artinya terdapat jumlah virus pada sampel pemeriksaan cukup banyak). Jika nilai CT lebih dari 25 (artinya jumlah virus pada sampel pemeriksaan hanya sedikit) hanya bisa diperiksa dengan swab PCR, sehingga jika swab antigen negative masih perlu dilakukan evaluasi pemeriksaan dengan metode swab PCR. Walaupun jumlah virus yang ada dalam orang tersebut hanya sedikit, tetapi orang ini sangat potensial untuk dapat menularkan covid. Dengan demikian seseorang yang telah kontak erat dengan orang yang sudah terkonfirmasi positif covid disarankan untuk melakukan karantina.

Memang banyak sekali alasan seseorang mengapa ingin terus beraktivitas/bekerja seperti biasa atau melakukan karantina, antara lain karena:

  1. Tuntutan pekerjaan, karena sector esensial atau kritikal maka harus terus berproduksi, harus bekerja untuk mencapai target tuntutan pekerjaan, karena sector esensial atau kritikal maka harus terus berproduksi, harus mencapai target tertentu yang telah ditetapkan.
  2. Pikiran/bayangan karantina yang menakutkan, akan merasa sendiri, akan merasa mengalami kesulitan yang macam-macam selama karantina.

Lalu bagaimana dengan yang hasil pemeriksaan swab antigennya positif? Pada umumnya yang bersangkutan terus melakukan isolasi. Hasil pemeriksaan swab antigen positif ini biasanya sudah ditembuskan ke fasilitas kesehatan (puskesmas) setempat, namun ada kalanya klinik yang melakukan pemeriksaan swab antigen tidak terkoneksi dengan fasilitas kesehatan (puskesmas) setempat, sehingga yang bersangkutan perlu melapor ke puskesmas setempat atau bisa melapor melalui satgas covid kalurahan setempat. Kenyataan yang terjadi bahwa sudah terjadi kasus positif covid tetapi tidak terpantau oleh fasilitas kesehatan (puskesmas) setempat, sehingga kasus ini menular ke orang lain terutama anggota keluarga. Karena yang positif covid tersebut dan anggota keluarganya tidak mengalami gejala, maka pada umumnya mereka menganggap tidak apa-apa, padahal keadaan tersebut bisa menimbulkan penularan ke orang lain lagi.

Standar operasional dan prosedur (SOP) penanganan seseorang yang diduga terpapar positif covid adalah seperti diuraikan tersebut di atas. Secara ringkas SOP-nya adalah:

- Pemeriksaan dilakukan 2x, pemeriksaan pertama sebagai pemeriksaan hari ke-1 begitu diketahui ybs kontak erat dengan orang terkonfirmasi positif covid.

- Yang hasilnya positif covid dilakukan isolasi.

- Yang hasilnya negative dilakukan karantina.

- Yang hasilnya negative dan telah melakukan karantina, selanjutnya dilakukan ..evaluasi pemeriksaan pada hari ke-5.

- Jika hasilnya positif covid dilakukan isolasi.

- Jika hasilnya negative karantina selesai dan dapat beraktivitas/bekerja seperti biasa.

Ada beberapa metode cara dalam pelaksanaan pemeriksaan swab, yaitu:

- Metode I: pemeriksaan hari ke-1 dan pemeriksaan hari ke-5 dengan swab PCR.

- Metode II: pemeriksaan hari ke-1 dengan swab antigen dan pemeriksaan hari ke-5 dengan swab PCR.

Pemeriksaan metode I merupakan metode yang paling ideal, tetapi memiliki beberapa kelemahan:

- Proses lama, pemeriksaan PCR membutuhkan waktu 2-3 hari karena harus dilakukan di laboratorium (tidak semua klinik mampu melakukan pemeriksaan PCR).

- Biayanya relative lebih mahal.

Dengan adanya keterbatasan/kelemahan pada metode I, maka dipilih dengan melakukan metode II, yaitu:

- Pemeriksaan hari ke-1 dengan swab antigen (bahkan swab antigen ini dapat dilakukan mandiri oleh orang yang diduga terpapar covid).

- Pemeriksaan hari ke-5 dengan swab PCR dilakukan oleh fasilitas kesehatan (puskesmas) setempat.

Akhir-akhir ini kasus positif covid masih tinggi, dan tenaga kesehatan tidak mampu lagi melakukan tugas sesuai dengan SOP tersebut, sehingga ada alternative lain, yaitu tidak dilakukan evaluasi pemeriksaan hari ke-5, namun dilakukan karantina bagi orang yang diduga terpapar sampai hari ke-14. Jika orang ini sampai hari ke-14 tidak ada gejala sakit, walaupun ybs benar-benar sudah terpapar, menurut kajian medis maka virusnya sudah tidak menular lagi.

Jadi bagi seseorang yang diduga terpapar covid, dan telah dilakukan swab antigen di hari ke-1 dan hasilnya negatif, langkah berikutnya ada 2 opsi yang bisa dilakukan, yaitu:

- Opsi I: melakukan karantina dan pemeriksaan swab PCR pada hari ke-5 (jika mendesak untuk segera melakukan aktivitas/bekerja seperti biasa);

- Opsi II: melakukan karantina selama 14 hari sejak pemeriksaan swab antigen hari ke-1.

Kemudian bagi seseorang yang diduga terpapar covid, dan telah dilakukan swab (antigen atau PCR) dan hasil pemeriksaannya positif, bagi orang yang tidak bergejala dilakukan isolasi selama 10 hari. Jika bergejala, maka isolasi dilakukan sampai tidak ada gejala (misal sudah tidak ada gejala pada hari ke-12), maka isolasi sampai hari ke-12. Kemudian ketika yang bersangkutan akan melakukan aktivitas/bekerja kembali seperti biasa, maka sejak berakhirnya isolasi ditambah 3 hari tanpa gejala, baru ybs bisa beraktivitas/bekerja kembali seperti biasa.

Semoga bermanfaat.

Salam sehat.

Pak Lg dan Lilik

(16/7/2021)