VIRUS CORONA ADA DIMANA-MANA

Ketika seseorang dinyatakan positif covid, hebohlah di lingkungan komunitas orang tersebut. Lingkungan tempat tinggal heboh, lingkungan tempat bekerja heboh, lingkungan dimana yang bersangkutan terlibat dalam sebuah komunitas heboh, dst. Kondisi semakin mencekam ketika orang yang dinyatakan positif tersebut harus segera menjalani isolasi, apakah itu isolasi mandiri di rumah, isolasi di rumah shelter yang sudah disediakan, atau isolasi di rumah sakit rujukan.

Berbagai pernyataan keprihatinan, pernyataan yang menyemangati, atau pertanyaan² terus berdatangan kepada yang bersangkutan. Tentu saja semua ini dilakukan melalui media _handphone_ yang dimiliki, tidak dilakukan secara tatap muka. Pernyataan dan pertanyaan² ini menimbulkan perubahan² pada yang bersangkutan terutama pada psikhisnya. Bagi yang mampu berpikir rasional, dia akan introspeksi diri bahwa apa yang telah dilakukan sangat banyak kekurangan terutama dalam hal keterlibatannya mencegah penyebaran covid. Tetapi masih ada sebagian orang yang menunjukkan perilaku yang bermacam².

 

"Pak Lg, _penjenengan_ kok bisa terkena covid itu telah kontak dengan orang yang positif ya, ketularan dari siapa?" tanya Bagus.

 

Pak Lg rupanya tidak bisa berpikir jernih, dan terbawa dengan pemikiran sempit yang terkandung dalam kalimat pertanyaan tersebut. "Ketularan dari siapa", pikiran Pak Lg menelusuri teman²nya yang positif covid, dan spontan menyebut sebuah nama seseorang yang kebetulan saat itu sedang positif covid. Kalau di _tracing_ (ditelusuri) belum tentu sumber penularannya dari orang tersebut. Kalau informasi seperti ini sampai kepada orang yang disebut Pak Lg tadi (misalnya: pak Lg ketularan dari Anik), pastilah si Anik akan mengalami tekanan psikhis yang luar biasa.

 

"Pak Lg, belum lama ini _penjenengan_ sudah kontak dengan siapa saja?" begitulah pertanyaan Bagus selanjutnya.

 

Dengan cepatnya Pak Lg menyebut rentetan nama² orang. Nah, jawaban pak Lg ini sangat ringan sekali tetapi ini menimbulkan _kehebohan_ tersendiri di hati orang² yang disebutkan tadi. Yang hatinya paling _bergemuruh_ adalah orang yang sudah dinyatakan positif covid (termasuk Pak Lg dan Anik), orang² ini menjadi merasa berdosa: _"aku kok dadi sumber penyakit, aku kok njur ndadakke wong² kae lara, aku kok njur...._ dan selanjutnya masih banyak yang dirutuki dalam hatinya."

 

Itulah sebagian pertanyaan² yang mampu membuat heboh seantero dunia komunitas Pak Lg. Memang pertanyaan tersebut sulit dihindari, akan selalu muncul dalam upaya mencegah menyebarnya covid.

 

"Pak Lg, tetap semangat ya, jangan merasa berdosa bahwa _penjenengan_ bukanlah satu²nya sumber menyebarnya penyakit ini. Yang nulari _penjenengan_ belum tentu Anik, kasihan Anik jika disebut sebagai sumber penularan. Pak Lg juga tidak perlu merasa berdosa akan menjadi sumber penularan. Sekarang saya dibantu untuk mencegah penyebaran covid dari kasus bapak ini", demikian kata Lilis seorang petugas kesehatan.

 

"Oo.... begitu ya", jawaban Pak Lg singkat.

 

Seketika itu Pak Lg _mlongo_ seperti orang bodoh sedunia yang saat itu juga sedang merasakan badannya _ra karuan_: panas badan, demam, batuk, otot² sakit, persendian sakit, hidung mampet, dll.

 

"Iya pak, _santai mawon pak mboten sah panik_, sekarang virus Corona itu sudah ada dimana-mana pak, sekarang fokus menangani orang sakit dengan segera dan jangan sampai menyebar ke orang lain lagi", lanjut Lilis.

 

Selama ini Pak Lg dengan mantapnya mengajak teman²nya bekerja harus sesuai dengan target yang telah direncanakan, ukuran kinerja pekerjaannya memang itu. Yang lebih membebani pikiran pak Lg terlebih lagi bahwa sektor konstruksi adalah sektor strategis untuk percepatan pemulihan ekonomi, sehingga banyak tekanan dari berbagai pihak yang orientasi kerjanya pada ekonomi.

Namun sekarang hati pak Lg sedang sangat bergemuruh.

 

Gemuruh hati pak Lg, "haruskah memprioritaskan kinerja/produktivitas unit kerja?"

 

Gemuruh hati pak Lg yang lain, "ini banyak tekanan dari berbagai pihak, proyek ini proyek itu harus cepat selesai, ini untuk percepatan pemulihan ekonomi."

 

Masih banyak lagi gemuruh yang ada di hati pak Lg, namun sekarang hatinya berteriak-teriak yang lain: *Ojo lali nganggo masker, Ojo lali jaga jarak, Ojo lali cuci tangan, Ojo berkerumun, lan Ojo dho lunga-lunga wae*. Sekarang virus Corona sudah ada dimana².

 

Salam sehat.

Pak Lg

(13/7/2021)