Seni Memanen Air Hujan (ART OF WATER HARVESTING)

     Hujan merupakan peristiwa alami yang sering kita jumpai terutama di Indonesia pada masa musim hujan yaitu pada bulan Oktober sampai Maret. Hujan sendiri merupakan suatu proses siklus hidrologi yang terjadi dari uap air di atmosfer yang mengalami serangkaian proses kemudian tercurah ke permukaan bumi sebagai air hujan. Secara ilmiah, proses terjadinya hujan melalui 4 tahapan/proses, yaitu :

  1. Penguapan (evaporasi)
  2. Pengembunan (kondensasi)
  3. Presipitasi (pembentukan butiran air)
  4. Turun hujan

    Curahan air hujan yang jatuh ke bumi pada perjalanannya mengalami pergerakan yang berbeda, ada yang langsung ke bawah permukaan mengisi cadangan air bumi, dan ada juga sebagian yang tidak tertampung di bawah permukaan/melebihi kapasitas akan mengalir di permukaan menjadi limpasan permukaan, mencari jalan aliran dengan gaya gravitasi, misalnya membentuk sungai, danau, dan lain sebagainya. Air hujan tersebut perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin, tapi di sisi lain juga perlu diantisipasi daya rusak yang mungkin ditimbulkannya. Mengingat pentingnya air hujan bagi kehidupan manusia, beberapa upaya dilakukan untuk mengelola dan memanfaatkan air hujan yang turun. Hal ini selaras dengan konsep konservasi Sumber Daya Air sebagai pengoptimalan pemanfaatan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan manusia.  Upaya itu antara lain :

 

   1. Menampung dalam wadah terbatas

  Biasanya dilakukan di daerah yang masih kekurangan air (jauh dari sumber air, tidak terjangkau fasilitas PDAM). Air hujan ditampung dalam wadah seperti ember, drum dan penampung air lainnya. Menarik mengamati  perilaku masyarakat di daerah karst (kawasan berbatu gamping). Hal ini juga dilakukan oleh masyarakat di daerah karst. Karakter daerah karst walaupun sumber air lumayan melimpah, namun air yang turun langsung menerobos ke bawah permukaan tanah sehingga sulit dijangkau. Air ditangkap dengan memanfaatkan atap rumah sebagai bidang tangkap. Air yang ditangkap dialirkan ke wadah penampungan melalui talang. Bangunan penampungan dibangun secara permanen sebagai cadangan air.

Menampung air hujan dalam ember

 

   2. Menampung dalam embung

  Prinsipnya mirip dengan upaya sebelumnya, hanya dalam dimensi dan skala yang lebih besa. Biasanya embung berada di bagian atas puncak bentang lahan. Banyak embung yang menggunakan bahan tebal dan kedap air untuk melapisi dinding dan dasar embung untuk mengurangi kehilangan tampungan dari rembesan yang mungkin terjadi. Adapun pemanfaatan embung diantaranya untuk irigasi pertanian, hortikultura, perikanan air tawar, juga untuk wisata (misalnya Embung Nglanggeran di Gunungkidul dan Embung Bogor di Kulon Progo).

Embung Bogor di Kulon Progo

 

     3. Situ atau Rawa

  Pada beberapa wilayah, keberadaan situ/rawa merupakan sarana alami untuk memanen air hujan baik dari curahan langsung maupun limpasan air dari daerah sekitarnya. Namun sayangnya dalam perkembangannya banyak situ/rawa berubah fungsi menjadi pemukiman dengan pengurukan sehingga air mencari jalannya sendiri dan berpotensi menimbulkan banjir. Di sinilah Konservasi memegang peranan penting.

    Situ/ Rawa

 

    4. Membuat lubang resapan (biopori)

Upaya konservasi sumber daya air sebenarnya bisa diterapkan di lingkungan tempat tinggal kita. Prinsipnya dengan mengalirkan air agar dapat menembus ke bawah permukaan tanah. Namun terkadang pekarangan yang kita tempati permukaan tanahnya sudah diberi perkerasan sehingga air hanya lewat dan terbuang di permukaan.  Salah satu caranya dengan membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) yaitu dengan membuat lubang berdimeter 10 cm dengan kedalaman sekitar 1 m atau sekuatnya kita mengebor. Hal ini untuk memberi kesempatan sebagian air hujan meresap kedalam bumi sehingga mengurangi limpasan permukaan.

Pada musim kemarau, lubang bisa kita isi dengan limbah dari sayuran/potongan rumput sehingga jadi wadah pengomposan yang dapat dipanen sebagai pupuk. Bagian atas LRB dapat dipasang potongan pralon dan diberi penutup berlubang.

 

 

                                   Membuat Lubang Resapan Biopori

 

      5. Membuat Stupa Es

     Metode ini diterapkan untuk daerah yang memiliki musim dingin, misalnya di daerah Ladakh, pegunungan Himalaya. Dimana kondisinya yaitu saat musim semi air masih membeku dan sebelum musim panas berakhir cadangan air sudah habis. Hal ini menyebabkan mereka kekurangan air untuk lahan pertanian. Menyiasatinya dengan cara mengumpulkan air hujan dan mengalirkannya untuk mengalami pembekuan bertahap menjadi stupa es, kemudian akan mencair secara bertahap menjadi saran irigasi untuk mengairi lahan pertanian.

                            Pembuatan Stupa Es di daerah Pegunungan Himalaya

 

      Indonesia sebagai negara tropis yang mendapat curah hujan dan panas yang merata sepanjang tahun, hujan ini merupakan karunia yang harus dimanfaatkan dengan baik mengingat kebutuhan air semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk tiap tahunnya. Dengan pengelolaan/manajemen yang baik diharapkan bisa dimanfaatkan secara kontinyu baik pada saat air melimpah pada musim hujan serta pada saat air kurang pada musim kemarau dengan mengantisipasi daya rusak yang mungkin timbul. Manajemen Sumber Daya Air yang baik diharapkan kebutuhan  air baik untuk kebutuhan air baku, pertanian, perikanan, pariwisata dan lain-lain akan tercukupi secara berkesinambungan.

      Kabupaten Kulon Progo telah mempunyai beberapa embung sebagai salah satu upaya konservasi sumber daya air, misalnya Embung Bogor, Embung Batur, Embung Krapyak, Embung Dlingseng serta beberapa lokasi yang potensial untuk pembangunan embung di masa yang akan datang. Hal ini tidak lepas dari pencetakan lahan pertanian baru sebagai dampak alih fungsi lahan, sehingga membutuhkan sumber air baru. Terutama pada areal yang secara kontur tidak mungkin dialiri dari irigasi teknis yang sudah ada. Debit dari Daerah Irigasi Kalibawang juga sudah sangat terbatas dan Waduk Sermo juga hanya sebagai suplesi sehingga tidak mencukupi jika harus menambah luas areal irigasi. Disinilah urgensi dari Konservasi Sumber Daya Air sebagai salah satu faktor pendukung Ketahanan Pangan masyarakat.

(hs/SDA/DPUPKP)