PENGELOLAAN BANJIR TERPADU

Pengelolaan banjir terpadu adalah proses keterpaduan pengelolaan banjir melalui pendekatan pengelolaan tanah dan sumber daya air, daerah pantai pesisir, dan pengelolaan daerah bencana pada suatu DAS dengan tujuan memaksimumkan keuntungan daerah bantaran banjir dan meminimumkan kehilangan nyawa dan kerusakan harta benda dari banjir (Green dkk., 2004). Pengelolaan banjir terpadu merupakan penanganan integral yang mengarahkan semua stakeholders dari pengelolaan banjir sub-sektor ke sektor silang (Kodoatie & Sjarief, 2006).

Pengelolaan banjir tidak dapat dilaksanakan secara terpisah-pisah, tetapi pengelolaan banjir harus dilaksanakan secara tersistem, menyeluruh dan terpadu antara hulu dan hilir. Pengaruh perubahan tata guna lahan, urbanisasi dan penebangan hutan sangat besar terhadap peningkatan kuantitas banjir.

Kabupaten Kulon Progo dilalui 2 alur Sungai dengan DAS yang besar, yaitu Sungai Progo dan Sungai Serang. Sungai-sungai tersebut pada waktu musim penghujan akan mengalirkan debit yang besar karena luas DAS yang besar.

Bilamana  terjadi banjir  di  lokasi  bagian  hilir  umumnya  akan  terjadi  genangan yang  cukup  luas  dengan waktu  genangan  yang cukup  lama. Dengan DAS yang luas proses peningkatan banjir, erosi   dan   sedimentasi  akan   berlangsung   gradual   tidak   instan   maka   untuk karakteristik bencana sering disebut bencana merangkak. 

Namun  yang  perlu  diperhatikan  dan  dipahami  adalah  bila  kondisi  sungai  sudah rusak  dan  kritis  maka perbaikan  atau  peningkatan  sungai  akan  sangat  sulit  dan biaya  yang  dibutuhkan  akan  sangat  mahal. Dengan  kata  lain  apabila  ratio  "Qmax dan Qmin" (debit puncak dan minimum)  terlalu besar maka konsekuensinya bencana banjir akan terus terjadi dan meningkat dari sisi luas, tinggi dan lama genangan. Dua penyebab utama rusaknya DAS  adalah  penebangan  hutan secara liar dan penambangan. penebangan  hutan secara liar  ini  disamping  akan  memperbesar  debit  puncak  (Qmax)  dan  memperkecil Qmin  sekaligus  juga akan  meningkatkan  erosi  di  hulu  DAS  dan  sedimentasi  pada sungai.

Upaya pemulihan kondisi sungai akan memakan waktu yang lama dan bahkan  bisa  terjadi  tak  bisa  dipulihkan karena  telah  terjadi  perubahan fluvial geomorfology yang signifikan. Penambangan yang tidak berwawasan lingkungan di samping  akan  meningkatkan run-off juga akan  menyebabkan  erosi  DAS  dan sedimentasi  sungai yang  makin  besar.  Akibatnya  sungai  akan  menjadi  lebih dangkal. Sebaliknya  sungai  dengan  luas  DAS  kecil namun  di  bagian  hulunya  mempunyai kemiringan  terjal  maka  akan  terjadi  banjir  yang  cepat  (banjir bandang)  dengan  daya rusak  yang  besar  karena  kuat  arus  yang terjadi  dari  sungai-sungai  tersebut sangat besar.

Konflik   ruang   antara   air   dan   manusia   akibat   pertumbuhan   penduduk   juga menimbulkan  peningkatan banjir  yang signifikan.  Umumnya  yang  terjadi  adalah berkurangnya    kawasan    lindung    dan    meningkatnya kawasan    budidaya.

Pada dasarnya kegiatan pengendalian banjir adalah suatu kegiatan yang meliputi aktifitas mengenali besarnya debit banjir, mengisolasi daerah genangan banjir serta mengurangi tinggi elevasi air banjir.

Sumber : Modul 03, Pengelolaan Banjir Terpadu, Pelatihan Pengendalian Banjir

(a-SDA)