Pesona Gerbang Klangon Samudraraksa, sebagai Pembentuk Identitas Wilayah

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendukung pengembangan infrastruktur kawasan pariwisata dalam rangka mendorong peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Kementerian PUPR membangun 4  gerbang sebagai penanda masuk melalui 4 koridor utama ke arah Candi Borobudur, yakni Gerbang Klangon dari arah Kulon Progo, Gerbang Blondo sebagai pintu masuk dari arah Semarang, Gerbang Palbapang dari arah Yogyakarta, dan  Gerbang Kembanglimus dari arah Purworejo. 

 

Untuk Gerbang Klangon yang terletak di Jalan Nanggulan Mendut, Karang Reso, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo saat ini progresnya sudah 100%. Penataan yang dilakukan meliputi pembangunan pusat informasi wisata dan sculpture, pusat kuliner, kios oleh-oleh, mushola, deck view point, area parkir, Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPST), dan toilet.  Selain itu juga dilakukan penataan pedestrian/trotoar, drainase, street furniture, dan lansekap di jalur eksisting serta dibangun relief dari batu sebagai ikon Gerbang Klangon dengan tema Samudraraksa, yang merupakan salah satu kapal kayu bercadik khas Nusantara dengan mempresentasikan kebudayaan bahari purbakala.

 

Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Daerah Istimewa Yogyakarta Ditjen Cipta Karya membangun Gerbang Klangon menjadi titik peristirahatan wisatawan yang memulai perjalanan dari Bandara Yogyakarta International Airport menuju Candi Borobudur, dengan anggaran sebesar Rp 23,1 miliar di Tahun 2020.

 

Keberadaan Gerbang Samudraraksa ini tak lepas dari perencanaan elemen arsitektur kawasan. Dalam perencanaan karakter sebuah kawasan baik itu dengan skala kota atau kawasan, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas suasana kawasan tersebut, bernilai jual dan khas, terdapat 5 elemen dalam pengembangan kawasan yang relevan untuk diterapkan. Lima elemen tersebut adalah nodes, edges, paths, districts, dan landmarks (Kevin Lynch, 1960).

 

Node adalah simpul dari path (jalur sirkulasi) yang diberikan sebuah penekanan untuk meningkatkan pengenalan dan orientasi pada jalur sirkulasi tersebut. Gerbang Samudraraksa ini terletak dalam nodes perbatasan antara Kulon Progo dan Jawa Tengah, sangat strategis jika dilihat dari segi pembentukan identitas dengan pengolahan nodes. Terkadang dalam tujuan tertentu node tersebut diberikan sentuhan elemen arsitektur yang disebut sebagai landmark, yaitu sebuah bentuk fisik yang khas (mungkin monumental) dan dapat menjadi acuan bagi pengguna kawasan sehingga memudahkan dalam orientasi serta turut membantu menciptakan karakter sebuah kawasan, hal ini akan semakin tercapai jika elemen fisik (arsitektur) tersebut mencerminkan nilai budaya lokal kawasan tersebut, elemen fisik ini dalam berupa bangunan atau ruang terbuka/lanskap (Salim, 1993; Lynch, 1960; Moughtinet, dkk, 1999). Adanya dua schlupture besar berupa kapal bercadik khas nusantara dan gulungan ombak dengan skala monumental merupakan bentukan landmark yang tepat untuk mendukung orientasi nodes.

 

Edge adalah sebuah batas maya yang membedakan kawasan satu dengan kawasan lainnya, sebagai mana landmark, biasanya edge juga dibentuk dari arsitektur bangunan dan atau lanskap, terutama jika jalur sirkulasinya tidak begitu jelas dalam membentuk blok kawasan. Pada akhirnya berbagai elemen tersebut akan ditentukan di dalam sebuah distrik atau kawasan tertentu yang menjadi objek perencanaan dan perancangan. Jelas bahwa posisi Gerbang Samudraraksa yang terletak di perbatasan dengan Jawa Tengah serta pada bentang alam pegunungan, Kali Progo dan akses jalan serta jembatan yang memisahkan kedua wilayah. Dengan adanya Landmark ini, Edge kawasan semakin terlihat jelas sebagai pendukung orientasi landmark tersebut.

 

Path adalah jalur sirkulasi atau akses pergerakan pengguna kawasan dalam melakukankegiatan, bentuk?bentuk jalur ini dapat berupa jalan, trotoar, gang, atau apapun yang sesuai dengan fungsi tersebut, keberadaan elemen?elemen fisik disepanjang jalur sirkulasi ini menciptakan ruang gerak yang berkarakter dan khas. Perencanaan jalur sirkulasi, rest area, street furniture dan spot swafoto pada gerbang Samudraraksa merupakan bagian dari penciptaan elemen path yang mendukung orientasi landmark tersebut.

 

Elemen District (Distrik)

Distrik (district) adalah kawasan kota yang bersifat dua dimensi dengan skala kota menengah sampai luas, dimana manusia merasakan ’masuk’ dan ’keluar’ dari kawasan yang berkarakter beda secara umum. Karakter ini dapat dirasakan dari dalam kawasan tersebut dan dapat dirasakan juga dari luar kawasan jika dibandingkan dengan kawasan dimana si pengamat berada.

Elemen ini adalah elemen kota yang paling mudah dikenali setelah jalur/paths, meskipun dalam pemahaman tiap individu bisa berbeda. Districts merupakan wilayah yang memiliki kesamaan (homogen). Kesamaan tadi bisa berupa kesamaan karakter/ciri bangunan secara fisik, fungsi wilayah, latar belakang sejarah dan sebagainya.

 

Karakteristik-karakteristik fisik yang menentukan district adalah kontinuitas tematik yang terdiri dari berbagai komponen seperti tekstur, ruang, bentuk, detail, simbol, jenis bangunan, penggunaan, aktivitas, penghuni, tingkat pemeliharaan, topografi. Di sebuah kota yang dibangun dengan padat, homogenitas facade merupakan petunjuk dasar dalam mengidentifikasi district besar. Petunjuk tersebut tidak hanya petunjuk visual: kebisingan dan ketidakteraturan bisa dijadikan sebagai petunjuk. Nama-nama district juga membantu memberikan identitas, juga distrik-distrik etnik dari kota tersebut. Gerbang Samudraraksa jelas mengaplikasi penciptaan elemen districk yang harmonis sebagai gerbang masuk dari area Kulon Progo menuju Kawasan Borobudur.

 

Wilayah publik menjadi hal yang sangat tepat untuk diterapkan berbagai konsep arsitektur dengan berbagai tujuannya. Secara umum, intervensi yang akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas ruang kawasan destinasi adalah pada path (jalur sirkulasi/aksesibilitas) node dan landmark (bangunan dan atau ruang terbuka publik dengan sejumlah program ruang), sedangkan untuk meningkatkan kualitas dan mengembangkan daya tarik, diterapkan beberapa pengaturan terhadap bangunan atau area daya tarik wisata dan pembangunan infrastruktur penunjang baru.

 

Perencanaan dan pembangunan Gerbang Klangon Samudraraksa merupakan perwujudan perencanaan arsitektur yang berdayaguna sebagai pembentukan identitas wilayah dengan penerapan lima elemen pengembangan kawasan (nodes, edges, paths, districts, dan landmarks). Jika sebuah fasilitas umum (yang identik dengan gerbang Samudraraksa) direncanakan tanpa memperhatikan kelima elemen ini, maka bangunan tersebut akan tanpa makna, tanpa identitas dan bahkan tidak efisien dalam skala perencanaan dan pengembangan sebuah kawasan.

 

(Yean/CK/2021)

Dikutip dan diedit dari berbagai sumber