Kota Hijau

Peningkatan jumlah penduduk di kawasan perkotaan (urbanisasi) dan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan membawa berbagai konsekuensi masalah di Indonesia, diantaranya peningkatan angka kemiskinan perkotaan, kemacetan lalu lintas, kenaikan permukaan air laut, pemenuhan kebutuhan infrastruktur yang belum merata, makin banyaknya lingkungan kumuh, dan banjir. Sejumlah permasalahan tersebut memberi kontribusi pada peningkatan efek pemanasan global (perubahan iklim). Konsep pengembangan kota hijau merupakan salah satu solusi yang ditawarkan dalam berkontribusi pada permasalahan perubahan iklim melalui tindakan adaptasi dan mitigasi.

Apakah arti kota hijau itu sendiri? Apakah kota yang keseluruhan bagian kota memiliki unsur berwarna hijau? Ya, berbicara mengenai kota hijau mengungkapkan sebuah kota yang erat dengan lingkungan dan infrastruktur hijau yang menjadi penyeimbang lingkungan. Saat ini kota-kota di Indonesia berkembang ke arah pembangunan fisik sehingga tak jarang timbul banyak masalah seperti kepadatan bangunan, kepadatan guna lahan bahkan penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian khusus untuk pengembangan kualitas lingkungan melalui pengembangan kota hijau dengan berfokus kepada peningkatan kualitas lingkungan, penambahan ruang terbuka hijau (RTH), dan diterapkannya unsur infrastruktur hijau sebagai unsur utama kota hijau.

Kota hijau adalah kota yang dibangun dengan tak mengorbankan aset kota, tapi terus-menerus memupuk semua aset, yakni manusia, lingkungan, dan sarana prasarana terbangun.

Beberapa ciri kota hijau antara lain memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber daya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, serta menyinergikan lingkungan alami dan buatan berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip pembangunan berkelanjutan (lingkungan, sosial, dan ekonomi). Ada delapan atribut kota hijau, yaitu :

  1. Green planning and design: perencanaan dan perancangan kota yang beradaptasi pada kondisi biofisik kawasan.
  2. Green open space: mewujudkan jejaring ruang terbuka hijau.
  3. Green waste: usaha menerapkan 3 R (reduce, reuse, recycle).
  4. Green transportation: pengembangan transportasi yang berkelanjutan/transportasi massal.
  5. Green water: efisiensi pemanfaatan sumber daya air.
  6. Green energy: pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan
  7. Green building: pengembangan bangunan hemat energi.
  8. Green community: kepekaan, kepedulian, dan peran aktif masyarakat dalam pengembangan atribut kota hijau. Konstruksi bangunan yang ramah lingkungan menjadi sebuah elemen vital dalam perwujudan kota hijau.

 

Tahapan awal perwujudan kota hijau ini juga terfokus pada tiga atribut, yakni green planning and designgreen open space, dan green community. Upaya perwujudan kota hijau melalui tercapainya delapan atribut memerlukan peran, dukungan dan komitmen seluruh stakeholder, yaitu masyarakat, pemda, swasta, dan sektor lain.

 

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang secara tegas mengamanatkan minimal 30% dari wilayah kota berwujud ruang terbuka hijau (RTH) dengan komposisi 20% RTH publik dan 10 persen RTH privat. Pengalokasian RTH ini ditetapkan ke dalam peraturan daerah (perda) tentang RTRW kabupaten/kota. Strategi menuju RTH 30% dengan cara menyusun rencana induk RTH dan melegalisasi perda RTH, menentukan daerah yang tidak boleh dibangun, menghijaukan bangunan, dan menambah luasan ruang terbuka hijau baru. Selain itu meningkatkan partisipasi masyarakat, mengembangkan koridor hijau, mengakuisisi RTH privat, dan meningkatkan kualitas RTH kota.

http://artikel-media.blogspot.co.id/2011/12/konsep-pengembangan-kota-hijau.html

http://sim.ciptakarya.pu.go.id/p2kh

_Perkim_