Mengapa Perlu Bangunan Rumah Sederhana Tahan Gempa

MENGAPA PERLU BANGUNAN RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA

          Baru-baru ini terjadi dua Gempa Bumi di dua tempat berbeda di Indonesia dalam waktu yang berselang kurang dari 2 bulan  yang mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang cukup besar. Gempa Lombok 31 Juli 2018 dan Gempa Palu & Donggala 28 September 2018 yang disertai Tsunami telah mengakibatkan lebih dari seribu orang meninggal dan ribuan lainnya luka ringan hingga berat.

          Gempa sesungguhnya tidak secara langsung membunuh manusia tapi kegiatan manusia yang mendesain dan membangun  dengan kurang cermat yang mengakibatkan terjadinya korban (Gupta, 2010). Pembangunan yang tidak cermat seperti membangun di lokasi yang berbahaya (di lereng, dibawah lereng, di daerah patahan, pada daerah lunak, di pantai), membangun tanpa merencana yang baik, membangun dengan material yang kurang baik, membangun dengan spesifikasi dibawah standar, membangun tanpa memperhatikan bahaya sekitar, membangun oleh yang bukan ahlinya. Membangun khususnya rumah yang berhubungan dengan bahaya gempa yaitu membangun dengan konsep tahan gempa (earthquake resistance).

 

Akibat Gempa Lombok 2018

Sumber : Pikiran Rakyat & Harian Terbit

 

Akibat Gempa Palu & Donggala 2018

Sumber : Viva.com  & SindoNews

 

Kejadian dua gempa bumi tersebut mengingatkan kepada kita kejadian Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 yang juga memberikan pengalaman bagi kita bahwa beberapa kerusakan yang terjadi disebabkan oleh (Widodo (2), 2007):

  • Bangunan yang rusak berat diakibatkan karena kegagalan pada struktur "Beam Column Joint" (pertemuan antara balok dan kolom)
  • Bangunan yang rusak dipicu oleh mutu bahan dan mutu pelaksanaan yang kurang baik
  • Bangunan yang rusak berat dipicu karena kurang difahaminya prinsip-prinsip teknik kegempaan


 

 

 

Akibat Gempa Jogja 2016

Ada rumah yang bertahan diantara rumah yang roboh

 

          Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah gempa maka kita hanya bisa mengurangi risiko akibat gempa dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dan menurunkan kerentanan yaitu kerentanan akibat kualitas hunian yang buruk. Membangun rumah anti gempa sangat tidak ekonomis maka lahirlah konsep rumah tahan gempa yang diharapkan dapat menurunkan kerentanan akibat gempa. Sehingga kerusakan bangunan akibat gempa tidak sampai mengakibatkan korban jiwa.

          Menurut Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa yang dikeluarkan Departemen Pekerjaan Umum, taraf keamanan minimum untuk bangunan gedung dan rumah tinggal yang termasuk dalam katagori bangunan tahan gempa yaitu yang memenuhi:

  • Bila terkena gempa bumi yang lemah, bangunan tidak mengalami kerusakan sama sekali



  • Bila terkena gempa bumi sedang, bangunan boleh rusak pada elemen-elemen non struktural, tapi tidak boleh rusak pada elemen struktur.





  • Bila terkena gempa bumi yang sangat kuat, bangunan tersebut tidak boleh runtuh baik sebagian atau seluruhnya, bangunan tersebut tidak boleh mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, bangunan tersebut boleh mengalami kerusakan tetapi kerusakan tersebut harus dapat diperbaiki dengan cepat sehingga dapat berfungsi kembali.



Beberapa faktor  yang  mempengaruhi dampak gempa bumi pada bangunan antara lain (Gupta,2010):

  • Jarak antara pusat gempa dengan bangunan
  • Kondisi alam dan susunan batuan antara pusat gempa dengan bangunan
  • Morfologi (bentuk dan struktur) tapak/lahan
  • Kondisi dan Intensitas gempa pada pusat gempa
  • Karakteristik dinamik bangunan
  • Kondisi bangunan

 

Sebagai masyarakat yang berbudaya dan maju yang siap menghadapi kondisi masa depan maka sudah seharusnya kita belajar dari kejadian di Lombok dan Palu Donggala. Belajar dari kondisi kerusakan Lombok dan Palu akibat gempa bumi maka kita harus mampu membudayakan upaya penurunan risiko akibat gempa. Salah satu yang terpenting adalah menurunkan kerentanan melalui peningkatan kualitas rumah yaitu rumah tahan gempa. Mengapa kita membutuhkan rumah tahan gempa?

  • Kita sudah mengetahui bahwa di daerah kita ada sumber-sumber potensi gempa ringan s.d berat.
  • Karena sampai dengan saat ini kita tidak dapat memprediksi kapan terjadinya gempa dan kekuatan gempa apakah gempa kecil, sedang atau berat.
  • Untuk meminimalkan risiko akibat gempa saat kita berada di dalam rumah, maka kerentanan rumah lah yang perlu diminimalkan.
  • Nilai untuk meningkatkan rumah "non engineered building" yang berisiko gempa menjadi rumah tahan gempa adalah kecil dibanding apabila risiko yang timbul karena kerusakan akibat gempa.
  • Masih banyak bangunan rumah "non engineered building" yang dibangun tanpa memperhatikan kaidah/ pedoman rumah tahan gempa.

Manfaat bangunan rumah tahan gempa:

  • Pada saat tidak terjadi gempa bumi penghuni merasa aman dan nyaman dalam beraktifitas didalamnya.
  • Pada saat terjadi gempa bumi meskipun rumah mengalami kerusakan, diharapkan tidak terjadi korban jiwa pada penghuni rumah.
  • Pada saat terjadi gempa, aset yang dimiliki dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi maupun usaha yang berada didalam rumah relatif aman atau setidaknya hanya mengalami kerusakan ringan.
  • Setelah gempa bumi sedang s.d berat, rumah masih dapat diperbaiki dengan biaya yang relatif ringan dalam waktu yang relatif singkat.



Demikian beberapa manfaat mengapa penting membangun rumah dengan standar rumah tahan gempa yang dikutip dari beberapa sumber. Pada artikel edisi berikutnya akan kami sampaikan pedoman rumah sederhana tahan gempa. Apabila masyarakat membutuhkan informasi lebih lanjut terkait artikel ini, dapat menghubungi website ini atau Bidang Perumahan dan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Permukiman Kabupaten Kulon Progo DIY.