Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Sanitasi Tahun Anggaran 2020 oleh

Pada Hari Senin 19 Oktober 2020 sampai dengan Jumat 23 Oktober 2020, Tim dari Seksi Penyehatan Lingkungan Bidang Cipta Karya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Kulon Progo melakukan kunjungan ke semua desa penerima kegiatan DAK Bidang Sanitasi di Kabupaten Kulon Progo untuk melakukan monitoring dan evaluasi terkait pelaksanaan pembangunan sarana sanitasi dasar dengan anggaran DAK Bidang Sanitasi Tahun Anggaran 2020.

Terdapat 8 (delapan) lokasi pembangunan sarana sanitasi dasar yang dikunjungi terdiri dari 3 (tiga) desa penerima kegiatan DAK Fisik Reguler Bidang Sanitasi dan 5 (lima) desa penerima kegiatan DAK Fisik Penugasan Bidang Sanitasi. Desa penerima kegiatan DAK Fisik Reguler Bidang Sanitasi yaitu Desa Kebonrejo Kecamatan Temon, Kelurahan Wates Kecamatan Wates dan Desa Brosot Kecamatan Galur. Sedangkan, penerima kegiatan DAK Fisik Penugasan Bidang Sanitasi yaitu Desa Kebonharjo Kecamatan Samigaluh, Desa Nomporejo Kecamatan Galur, Desa Sidoharjo Kecamatan Samigaluh, Desa Ngargosari Kecamatan Samigaluh, dan Desa Pagerharjo Kecamatan Samigaluh.

Pelaksanaan pembangunan fisik kegiatan DAK Sanitasi di Kulon Progo Tahun Anggaran 2020 ini secara keseluruhan dilaksanakan secara swakelola. Swakelola berarti menggunakan konsep pemberdayaan masyarakat untuk menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam proses perencanaan, pembangunan, operasional, dan pemeliharaan sarana sanitasi yang dibangun. Kunjungan lokasi diadakan dengan metode sampling ke beberapa titik per desa yaitu antara 5 (lima) hingga 10 (sepuluh) titik per desa dengan didampingi oleh aparatur desa dan pendamping dari KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang menjadi pengelola sarana sanitasi di desa tersebut.

Jenis sarana sanitasi dasar yang dibangun pada desa penerima kegiatan DAK Fisik Reguler Bidang Sanitasi, yaitu tangki septik komunal. Desa Kebonrejo Kecamatan Temon, melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik komunal sebanyak 5 (lima) unit, dan disambungkan ke 25 (dua puluh lima) sambungan rumah. Kelurahan Wates Kecamatan Wates, melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik komunal sebanyak 10 (sepuluh) unit, dan disambungkan ke 50 (lima puluh) sambungan rumah. Desa Brosot Kecamatan Galur melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik komunal sebanyak 7 (tujuh) unit, dan disambungkan ke 35 (tiga puluh lima) sambungan rumah. Pembangunan tangki septik komunal lebih mudah dilaksanakan pada lahan dengan permukaan tanah yang cenderung datar dan tidak terlalu berkontur.

Dokumentasi Tangki Septik Komunal di Kelurahan Wates

Untuk desa penerima kegiatan DAK Fisik Penugasan Bidang Sanitasi, jenis sarana sanitasi dasar yang dibagun terdiri dari tangki septik komunal dan tangki septik skala individual perdesaan. Desa Kebonharjo Kecamatan Samigaluh melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik komunal sebanyak 6 (enam) unit, dan disambungkan ke 30 (tiga puluh lima) sambungan rumah. Desa Nomporejo Kecamatan Galur melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik skala individual perdesaan sebanyak 50 (lima puluh) sambungan rumah, Desa Sidoharjo Kecamatan Samigaluh melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik skala individual perdesaan sebanyak 67 (enam puluh tujuh) sambungan rumah, Desa Ngargosari Kecamatan Samigaluh melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik skala individual perdesaan sebanyak 60 (enam puluh) sambungan rumah dan Desa Pagerharjo Kecamatan Samigaluh melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik skala individual perdesaan sebanyak 61 (enam puluh satu) sambungan rumah. Beberapa lokasi melakukan pembangunan sarana sanitasi dasar berupa tangki septik skala individual karena lokasi pembangunan merupakan tanah yang berkontur sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pembangunan sarana sanitasi dengan sistem komunal.

Berdasarkan hasil kunjungan lokasi dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan fisik tersebut, diketahui bahwa pembangunan sarana sanitasi dasar yang dikunjungi sudah terbangun seratus persen. Beberapa catatan yaitu terdapat pada tahap akhir atau finishing pembangunan seperti kerapihan pengerjaan. Masyarakat menerima adanya kegiatan ini dengan antusiasme tinggi dan berharap agar program peningkatan sarana sanitasi dasar ini dapat memberikan manfaat jangka panjang. Adanya kegiatan pembangunan sarana sanitasi dasar ini juga bertujuan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat serta mencegah timbulnya penyakit-penyakit menular yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan. (LINA-Cipta Karya)