Mengenal Bangunan Irigasi : Saluran Pembawa

Saluran pembawa atau biasa disebut saluran irigasi merupakan salah satu prasarana irigasi yang memiliki fungsi antara lain mengambil air dari sumber air, membawa atau mengalirkan air dari sumber ke lahan pertanian, mendistribusikan air kepada tanaman serta mengatur dan mengukur aliran air. Saluran pembawa dibagi menjadi beberapa jenis yakni:

  1. Saluran Primer / Saluran Induk

Adalah saluran yang membawa air dari bangunan utama ke saluran sekunder dan petak-petak yang diari. Belum membaca artikel tentang bangunan utama? Langsung klik saja link berikut: https://dpu.kulonprogokab.go.id/detil/303/mengenal-bangunan-irigasi-bangunan-utama Saluran ini dimulai dari bangunan utama dan berakhir pada bangunan bagi yang terakhir.

  1. Saluran Sekunder

Adalah saluran yang membawa air dari saluran primer ke petak-petak yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Saluran ini dimulai dari bangunan bagi/sadap di saluran primer dan berakhir pada bangunan sadap terakhir di saluran sekunder.

  1. Saluran Tersier

Adalah saluran yang membawa air dari bangunan sadap tersier di saluran primer maupun sekunder dan mengalirkannya ke saluran kuarter serta petak tersier yang dilayani. Saluran ini dimulai dari bangunan sadap tersier dan berakhir pada boks kuarter terakhir.

  1. Saluran Kuarter

Adalah saluran yang membawa air dari boks kuarter ke petak-petak yang diari.

Jenis-jenis saluran diatas lebih mudah ditemui pada jaringan irigasi teknis yang memiliki debit stabil serta biasanya memiliki daerah layanan yang luas seperti Daerah Irigasi Kalibawang maupun Daerah Irigasi Sapon. Daerah irigasi yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo kebanyakan memiliki luasan kecil (<50 ha) serta topografi yang banyak di pegunungan sehingga banyak yang hanya memiliki saluran primer / induk. Pelayanan air ke lahan pertanian langsung mengambil dari saluran primer tersebut baik menggunakan bangunan sadap maupun secara oncoran.

Saluran pembawa adalah prasarana fisik yang memiliki bobot terbesar kedua setelah bangunan utama dalam rangka penilaian kinerja sistem irigasi. Terdapat beberapa indikator untuk menilai kinerja saluan pembawa menurut Permen PUPR Nomor 12/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi, antara lain:

  1. Profil saluran untuk memenuhi kapasitas rencana
  2. Ditemukannya sadap liar atau bocoran pada saluran
  3. Adanya endapan atau erosi di saluran
  4. Stabilitas tanggul dan tinggi jagaan yang aman agar air tidak melimpah
  5. Tanggul luar yang utuh dan tidak ada tumbuhan liar.

Dalam melakukan perencanaan saluran pembawa perlu memperhatikan data topografi, kapasitas rencana, data geoteknik serta data sedimen. Data-data tersebut akan mempengaruhi pemilihan trase saluran, dimensi saluran, jenis konstruksi saluran serta kemiringan saluran. Perencanaan saluran dilakukan secara matang agar menghasilkan biaya konstruksi dan pemeliharaan yang terendah. Perencanaan saluran dapat mengacu pada Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-03) bagian Saluran dan Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-05) bagian Petak Tersier.

Berdasarkan jenis konstruksinya, saluran pembawa dapat dibagi menjadi:

  1. Saluran Tanah

Saluran irigasi tanah atau saluran tanpa pasangan secara umum masih banyak dipakai di Indonesia. Saluran tanah dapat digunakan karena dapat memberikan nilai pelaksanaan yang ekonomis, hanya saja perlu dipertimbangkan berbagai aspek antara lain jenis tanah, stabilitas serta rencana kemiringan saluran. Pada keadaan yang tidak memungkinkan maka dapat dipilih konstruksi saluran menggunakan pasangan.

  1. Saluran Pasangan

Terdapat beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat saluran pasangan antara lain pasangan batu, beton baik insitu maupun precast, pasangan tanah yang dipadatkan serta beton Ferrocement.

Beton Fetrocement adalah suatu tipe dinding tipis beton bertulang yang dibuat dari mortar semen hidrolis diberi tulangan dengan kawat anyam/kawat jala (wiremesh) yang menerus dan lapisan yang rapat serta ukuran kawat relatif kecil. Kelebihan dari Ferrocement ini antara lain memiliki biaya konstruksi yang lebih rendah, memiliki kekuata beton yang lebih tinggi serta konstruksi yang lebih ringan.

Pasangan batu dan beton secara umum cocok untuk semua keperluan kecuali perbaikan stabilitas tanggul. Sedangkan pasangan tanah hanya cocok untuk pengendalian rembesan serta perbaikan stabilitas tanggul. (faisal-sda).

Sumber:

1. Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-03)

2. Permen PUPR Nomor 12/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi