BANGUNAN PELENGKAP JALAN

(bagian kedua)

Bangunan Pelengkap Jalan adalah bangunan untuk mendukung fungsi dan keamanan konstruksi jalan yang meliputi jembatan, terowongan, ponton, lintas atas (flyover, elevated road), lintas bawah (underpass), tempat parkir, gorong-gorong, tembok penahan, dan saluran tepi jalan dibangun sesuai dengan persyaratan teknis (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 13/PRT/M/2011 tentang Tata Cara Pemeliharaan dan Penilikan Jalan).

Bangunan pelengkap Jalan berfungsi sebagai:

  1. jalur lalu lintas.
  2. pendukung konstruksi jalan.
  3. fasilitas lalu lintas dan fasilitas pendukung pengguna jalan.

 

Bangunan pelengkap jalan yang berfungsi sebagai pendukung konstruksi jalan terdiri dari:

  1. Saluran tepi jalan.
  2. Gorong-gorong.
  3. Dinding penahan tanah.

 

  1. Saluran tepi jalan

Saluran tepi jalan merupakan saluran untuk menampung dan mengalirkan air hujan atau air yang ada dipermukaan jalan, bahu jalan, dan jalur lainnya serta air dari drainase dibawah muka jalan, di sepanjang koridor jalan.

Saluran tepi jalan dapat dibuat dari galian tanah biasa atau diperkeras dan/atau dibuat dari bahan yang awet serta mudah dipelihara, sesuai dengan kebutuhan fungsi pengaliran.

Saluran tepi jalan harus dalam bentuk tertutup jika digunakan pada Jalan di wilayah perkotaan yang berpotensi dilalui pejalan kaki.

Dimensi saluran tepi jalan harus mampu mengalirkan debit air permukaan maksimum dengan periode ulang:

  1. paling sedikit 10 (sepuluh) tahunan untuk jalan arteri dan kolektor.
  2. paling sedikit 5 (lima) tahunan untuk jalan lokal dan lingkungan.

Dalam hal tertentu saluran tepi Jalan dapat juga berfungsi sebagai saluran lingkungan dengan izin dari penyelenggara jalan.

 

  1. Gorong-gorong

Gorong-gorong merupakan saluran air di bawah permukaan jalan berfungsi mengalirkan air dengan cara memotong badan jalan secara melintang.

Gorong-gorong harus dibangun dengan konstruksi yang awet dan harus  direncanakan untuk melayani paling sedikit 20 (dua puluh) tahun, serta mudah dipelihara secara rutin.

Konstruksi kepala gorong-gorong harus berbentuk sedemikian sehingga tidak menjadi objek penyebab kecelakaan.

Gorong-gorong harus mampu mengalirkan debit air paling besar, sesuai dengan luas daerah tangkapan air hujan:

  1. Untuk tangkapan air hujan pada ruang milik jalan (Rumija), periode hujan rencana yang diperhitungkan untuk dialirkan melalui gorong-gorong adalah: 
    • paling sedikit 10 (sepuluh) tahunan untuk jalan arteri dan kolektor.
    • paling sedikit 5 (lima) tahunan untuk jalan lokal dan lingkungan.
  2. Untuk air yang dialirkan melalui drainase lingkungan/saluran alam, maka periode ulang hujan rencana yang diperhitungkan adalah 25 (dua puluh lima) tahunan.

 

  1. Dinding Penahan Tanah

Dinding penahan tanah  merupakan bangunan konstruksi untuk menahan beban tanah ke arah horisontal dan vertikal.

Dinding penahan tanah dapat digunakan untuk menyokong badan jalan yang berada di lereng atau di bawah permukaan jalan.

Dinding penahan tanah harus mampu menahan gaya vertikal dan horizontal yang menjadi bebannya, sesuai dengan pertimbangan mekanika tanah dan geoteknik.

Dinding penahan tanah harus dibangun dengan konstruksi yang awet dan mudah dipelihara serta dengan faktor keamanan yang memadai.

Dinding penahan tanah harus dilengkapi sistem drainase.

Bagian sisi terluar dinding penahan tanah harus berada dalam atau pada batas Rumija.

 

(bersambung)

Oleh: Bidang Bina Marga

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 19/PRT/M/2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan