Sofwan House TREC FTUI ( Rumah Kontainer Dual Sistem )

Rumah Kontainer barangkali terdengar asing. Meski tidak umum, namun alih manfaat kontainer atau peti kemas, dari wadah untuk pengiriman barang menjadi tempat beraktifitas, sudah jamak dilakukan. Yakni, untuk ruang kerja, terutama bagi pekerja proyek di lapangan. Selain ini, kontainer juga sudah lama dimanfaatkan untuk kegiatan / fasilitas usaha. Antara lain untuk kedai dan restoran.

Rumah Kontainer adalah fenomena baru. Pada dasarnya, rumah ini dibangun sebagai alternatif, karena praktis, juga berbiaya rendah dan gaya, serta nyaman. Selain itu, bangunan berbahan kontainer juga terkenal kedap air dan tahan dari segala macam kondisi cuaca.

Belakangan, bangunan berbahan kontainer ternyata juga banyak dilirik untuk properti atau hunian. Peminatnya pun tidak sedikit. Mereka yang memiliki minat atas konsep properti berbahan kontainer ini, awalnya selain praktis juga terlihat sederhana. Namun, jika ditangani dengan apik dan benar, rumah kontainer ternyata bisa disulap sebagai properti yang penuh gaya. Selain layak huni juga punya keunikan tersendiri.

Lagipula properti kontainer juga praktis dan tidak butuh waktu lama untuk mendirikannya. Faktor inilah yang kemudian mendorong Kemenko kemaritiman mengembangkan rumah kontainer untuk daerah rawan bencana. Untuk itu, pemerintah merasa perlu menggandeng praktisi maupun akademisi untuk mengembangkan inovasi rumah kontainer dengan teknologi terbarukan. Kemenko Kemaritiman bersama dengan Fakultas Teknik Universitas Indonesia bersinergi untuk mendorong pengembangan konsep Rumah Kontainer dengan sistem Dual Power (sumber listrik dari renewable energy/tenaga surya dan sebagian kecil dari listrik konvensional).

Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia (TREC FTUI)  bersama dengan Kemenko Kemaritiman  meluncurkan sebuah model Rumah yang mengusung teknologi Listrik Dual Power Pertama di Indonesia.

Rumah yang diberi nama Sofwan House TREC FTUI ini menerapkan teknologi pembangkit listrik yang berasal dari teknologi fuel cell (sel bahan bakar) dan solar cell (panel surya). Sofwan House TREC FTUI juga akan menjadi laboratorium riset inovasi energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Gambar : Prototype Rumah Kontainer Dual Sistem yang berada di Universitas Indonesia

Teknologi ini memungkinkan sebuah rumah menggunakan dua sumber listrik yaitu AC dan DC, konsep ini disebut dual power. Ide konsep dan istilah ini dicetuskan pertama kali oleh para peneliti TREC FTUI, dengan harapan menghadirkan listrik yang ramah lingkungan dan handal untuk peralatan di rumah tangga dan perkantoran. Direktur TREC FT UI. Dr. Ing. Eko Adhi Setiawan menuturkan, “Rumah yang terbuat dari kontainer ini dirancang sedemikian rupa agar kebutuhan listriknya dapat dipenuhi sendiri, dan listrik dari PLN hanya digunakan sebagai cadangan saja.

Gambar : Gambar interior Sofwan House TREC FTUI 

Listrik yang dihasilkan berasal dari teknologi fuel cell (sel bahan bakar) dan solar cell (panel surya) yang kemudian disimpan dalam baterai, untuk kemudian disebut dengan istilah Dual Cells. Listrik keluaran alat ini mampu menyalakan berbagai peralatan listrik rumah tangga. Perangkat ini berkapasitas 2500 sampai 4000 Watt dimana dapat digunakan untuk 1-3 rumah di perkotaan. melalui teknologi DCON yang dikembangkan TREC, listrik DC terbukti lebih stabil dan dapat dibangkitkan langsung oleh panel surya yang dapat dipasang di atap rumah, sehingga tidak terjadi perubahan konversi energi listrik dari DC ke AC yang menggunakan inverter yang sudah umum digunakan. Apabila terjadi kerusakan atau Collapse pada sumber arus listrik DC, sumber listrik dapat langsung diganti atau Switch ke sumber listrik AC ( PLN ). Sehinnga menjadikan sumber listrik dari PLN hanya berfungsi sebagai backup atau sumber cadangan listrik di dalam rumah saja.

Gambar : Teknologi DCON yang memungkinkan rumah memiliki dua sumber listrik AC dan DC

Beberapa keunggulan dari rumah kontainer ini, selain memanfaatkan renewable energy seperti yang telah dijelaskan diatas, juga didesain tahan gempa, karena biasanya di daerah terdampak bencana respon yang pertama kali yang perlu dilakukan adalah menangani kelistrikan atau energi, dan rumah kontainer ini adalah solusi yang terbilang cukup tepat, oleh karena kemandirianny dalam menyediakan tenaga listrik.

Rumah dengan konsep ramah lingkungan ini prinsipnya dimungkinkan diaplikasikan di resort – resot wisata yang berlokasi di daerah rawan bencana, dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya skala kecil atau baterai berkonsep Be-Care dengan desain portable yang sangat ringkas untuk digunakan di daerah tanggap darurat. Properti layak huni ini juga bisa dimanfaatkan sebagai hunian sementara ( Huntara ) para korban bencana.

Dengan berbagai keunggunaln diatas, rumah konsep kontainer dual sistem ini masih terdapat beberapa kekurangan sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut, selain teknologi DCON belum terdapat di pasar indonesia yang membuat biaya membangun rumah ini masih tergolong cukup mahal, juga rumah kontainer ini masih identik dengan penggunaan AC. Diperlukan review desain layout rumah kontainer ini kembali sehingga airflow menjadi lancar dan membuat rumah tidak lagi terasa panas untuk ditinggali tanpa penggunaan AC berlebih.  

Diharapkan model rumah kontainer berikut dengan teknologinya ini kedepan mampu menjadi terobosan teknologi di Indonesia, sehingga kedepannya dapat lebih mengoptimalkan penggunaan listrik dari energi terbarukan. ( Perkim )

Sumber :

https://www.ui.ac.id/

https://perumahan.pu.go.id/

https://maritim.go.id/