Drainase Berwawasan Lingkungan atau Eko-Drainase

Drainase Berwawasan Lingkungan atau Eko-Drainase

 

Dewasa ini, Pembangunan perumahan atau permukiman di perkotaan tumbuh semakin pesat sehingga lahan yang tertutup oleh perkerasan terus meningkat, dan kawasan peresapan air hujan pun semakin berkurang. Banyak kawasan di dataran rendah yang semula berfungsi sebagai tempat parkir air (retarding pond) dan bantaran sungai kini menjadi tempat hunian. Kondisi ini akhirnya akan meningkatkan volume air permukaan yang masuk ke saluran drainase dan sungai. Hal ini sering terlihat dari air yang meluap dari saluran drainase, baik di perkotaan maupun di permukiman pedesaan sehingga menimbulkan genangan air atau bahkan banjir. Hal itu terjadi karena selama ini drainase difungsikan untuk mengalirkan air hujan yang berupa limpasan (run-off) secepat-cepatnya ke penerima air/badan air terdekat.

Untuk mengatasi permasalahan diatas tersebut diperlukan sistem drainase yang berwawasan lingkungan dengan prinsip dasar mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga dapat dialirkan secara terkendali dan lebih banyak memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini dimaksudkan agar konservasi air tanah dapat berlangsung dengan baik dan dimensi sarana drainase dapat lebih efektif dan efisien.

Pengembangan prasarana dan sarana drainase berwawasan lingkungan ditujukan untuk mengelola limpasan permukaan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan terlebih dahulu ke dalam tanah sebelum dialirkan ke aliran sungai sesuai dengan kaidah konservasi dan keseimbangan lingkungan. Konsep inilah yang ingin mengubah paradigma lama dalam pembangunan drainase khususnya di perkotaan.

Selama ini paradigma lama dalam pengelolaan drainase adalah mengalirkan secepat mungkin air ke saluran drainase terdekat atau badan air. Namun dengan adanya berbagai permasalahan terkait banjir, muncul paradigma baru yaitu menahan dan meresapkan air sebanyak mungkin ke tanah melalui sumur resapan, kolam retensi, ataupun yang lainnya.

Salah satu konsep yang sesuai dengan paradigma baru tersebut adalah konsep Ekodrainase, yaitu suatu konsep pengelolaan saluran drainase secara terpadu dan berwawasan lingkungan.

Prinsip konsep Ekodrainase ini yaitu air hujan yang jatuh ditahan dulu agar lebih banyak yang meresap ke dalam tanah melalui bangunan resapan, baik buatan maupun alamiah seperti kolam tandon, sumur-sumur resapan, biopori, dan lain-lain. Hal ini dilakukan mengingat semakin minimnya persediaan air tanah dan tingginya tingkat pengambilan air.

Gambar Skema Drainase Berwawasan Lingkungan
Sumber :http://ciptakarya.pu.go.id/

Salah satu contoh penerapan konsep drainase berwawasan lingkungan / Ecodrain yang telah dilakukan oleh pemerintah kabupaten Kulon progo dapat dilihat pada saluran drainase sekunder di kawasan relokasi kedundang.  Pada saluran drainase ini ditempatkan lubang – lubang peresapan  berupa bis beton dengan diameter 60cm dengan beberapa lubang atau inlet air pada bidang beton penutup lubang resapan.  Lubang – lubang resapan ditempatkan dengan interval jarak 15 m antara satu lubang resapan dengan lubang resapan lainnya.

Gambar Lubang resapan pada saluran drainase di kawasan relokasi kedundang
Sumber : Dokumentasi pribadi

Dengan konsep drainase seperti di atas, air limpasan permukaan masih mendapatkan kesempatan untuk dapat meresap ke dalam tanah sebelum dialirkan secepatnya ke sungai. Hal ini tentu saja selain dapat menjaga cadangan air tanah di sekitar kawasan sebagai salah satu usaha konservasi, juga dapat membantu meringankan beban saluran drainase pada saat terjadi luapan air yang melimpah pada saat turun hujan yang lebat. _Perkim_

Sumber : http://ciptakarya.pu.go.id/ , https://deals.weku.io , https://www.kompasiana.com