Emansipasi Wanita Itu Sikap Bukan Ambisi

Emansipasi dan kesetaraan wanita masih menjadi hal yang diperbincangkan untuk saat ini. Sebenarnya hal tersebut sudah usai, karena apa yang diperjuangkannya pada jaman dahulu, kini telah jadi kenyataan.

Kartini jaman sekarang identic dengan kartini generasi millenial. Mereka bilang mereka generasi 4.0. Lalu kartini-kartini zaman now mau ngapain lagi? Kartini zaman now cenderung wanita karier, wanita yang pergi pagi pulang petang demi menjadi pekerja kantoran, penuh etos kerja hingga mampu meraih jabatan pada strata tertentu. Hal itu bukan hal yang asing lagi bagi kita. Bahkan kaum wanita yang cerdas, berpendidikan tinggi sekarang ada dimana-mana. Zaman now, wanita sudah setara dengan laki-laki.

Kartini zaman now sungguh luar biasa, saya ambil contoh : sekarang banyak wanita yang jadi menteri, menjadi kepala suatu instansi, dan bekerja pada kedudukan strategis lainnya. Wanita zaman sekarang seharusnya lebih membangun sikap, bukan hanya sekedar membangun ambisi.

Mengapa saya menyebutnya dengan membangun ambisi? Karena banyak wanita yang menginginkan untuk memperoleh jabatan dan kedudukan duniawi. Mereka lebih mengejar karier dan melupakan membangun sikap sesuai kodratnya sebagai wanita. Wanita zaman now harusnya lebih “eling lan waspada”, karena sesungguhnya menjadi wanita yang cerdas, sukses dunia maupun akhirat tidaklah susah.Tapi menjadi wanita yang solehah, wanita yang sadar bahwa “ada di dunia” untuk “tetap ada di akhirat” patut dikedepankan.

Saat ini berapa banyak wanita yang terlalu mudah lupa kewajibannya akibat mengejar urusan dunia. Berapa banyak wanita yang bekerja dan berpendidikan. Tapi mereka gagal membina rumah tangganya, mengembang amanah sebagai ibu sekaligus istri untuk keluarganya.

Sepertinya wanita zaman now harus mereposisi diri, yang semua orientasi dunia berubah menuju orientasi akhirat. Bukan lagi jadi wanita yang sibuk memerdekakan diri sendiri dari berbagai obsesi dan mimpi. Tapi wanita yang tetap “membumi” menjalankan peran dunia sebagai jembatan menuju akhirat.

Kartini era millenial bukanlah mereka yang berjuang untuk emansipasi lalu menyalahgunakannya sebagai kedok ‘kebebasan’. Karena emansipasi bukanlah pemberontakan wanita terhadap kodrat kewanitaannya.

Jika hari ini masih ada anak-anak yang kesepian hingga terlibat narkoba. Jika hari ini masih ada anak-anak yang dicaci maki ibunya karena ia merasa sudah berjuang mati-matian untuk anaknya. Bahkan jika hari ini, masih ada anak-anak yang “terluka hatinya” karena ibu mereka. Itu tanda bahwa Kartini hanya sebatas ambisi bukan sikap.

Kartini zaman now hampir lupa. Bahagia itu bukan hanya di dunia tapi harus diperjuangkan hingga akhirat. Kebahagiaan itu bukan mereka yang ciptakan. Bukan pula pemberian Tuhan untuknya. Karena bahagia adalah perjuangan yang direstui oleh Tuhan.

Jadi sungguh, Kartini adalah sebuah sikap bukan sebuah ambisi.

SELAMAT HARI KARTINI UNTUK WANITA-WANITA HEBAT DPUPKP KULON PROGO….

(Ririn-SDA)