Pentingnya Bangunan Bercirikhas Yogyakarta yang Menampilkan Kearifan Lokal Kabupaten Kulon Progo.

Kamis, 4 Juli 2019 09:10:13 - Oleh : Oleh: Yean Aria Wisnu Wardhana/ Cipta Karya/ DPUPKP KP

Foto: Kunjungan Gubernur DIY di Taman Budaya Kulon Progo,didampingi Bupati Kulon Progo. Sumber: https://m.cowasjp.com/read/3063/20180313/221959/lestarikan-seni-budaya-kulonprogo-bangun-taman-budaya-modern/

KUNJUNGAN KOMISI IRIGASI JENEPONTO KE DPUPKP KABUPATEN KULON PROGO

Selamat Datang di Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman

Tugas, Fungsi dan Uraian Tugas

Profil Pejabat DPUP-KP

Informasi Serta Merta

Pentingnya Bangunan Bercirikhas Yogyakarta yang Menampilkan Kearifan Lokal Kabupaten Kulon Progo.

Oleh: Yean Aria Wisnu Wardhana/ Cipta Karya/ DPUPKP KP

Perkembangan kota dan wilayah -di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta khususnya- sangat pesat dan mengkhawatirkan karena dapat menimbulkan dampak (negatif) yang tidak terduga. Dan sangat mungkin, akan menggerus nilai-nilai budaya dan kearifan lokal kota-kota maupun berbagai wilayah di Indonesia, yang pada akhirnya akan menghilangkan karakter khas yang dimiliki sebagai wujud keistimewaan kota tersebut.

Yogyakarta merupakan salah satu daerah khusus yang diistimewakan di Indonesia. Yogyakarta adalah tempat obyek wisata yang tidak asing lagi di mata orang ataupun di berbagai mancanegara. Di Yogyakarta banyak obyek pariwisata yang sangat penting, bersejarah dan mempunyai keunikan tersendiri dengan cirikhasnya masing-masing.

Predikat sebagai kota budaya dan pariwisata yang disandang Yogyakarta selama ini, haruslah diperlihatkan secara kasat mata melalui konsep bangunan. Kita tidak ingin hanya Malioboro saja yang jadi ikon, tapi bandara, stasiun dan terminal, juga harus mencerminkan bangunan berciri Yogyakarta. Kota Yogyakarta seharusnya punya bangunan-bangunan dengan cirikhas tersendiri, baik dari segi fasat, ornamen maupun arsitekturnya. Hal itu sebagai penegas predikat kota budaya dan pariwisata. Secara khusus, Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di DIY yang sedang memasuki tahap perkembangan pesat dengan adanya megaprojek Bandara Internasional. Perkembangan kabupaten Kulon Progo semakin pesat dengan didukung keberadaan Bandara Internasional yang memacu pertumbuhan perekonomian dan perkembangan sektor pariwisata, perumahan dan sektor perdagangan.

Pertumbuhan Kabupaten Kulon Progo yang pesat memberikan konsekuensi akan perkembangan kawasan yang pesat dari sisi perkembangan perumahan maupun sektor perekonomian lainnya. Pembangunan fisik yang pesat diprediksi akan semakin banyak. Adanya pembangunan fisik yang pesat perlu didukung dengan adanya sistem dan peraturan yang jelas mengenai perijinan bangunan baru untuk memberikan pedoman yang jelas serta menertibkan style arsitektur bangunan baru yang akan terbangun.

Penertiban style arsitektur bangunan yang mencerminkan arsitektur bergaya khas Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi hal penting karena akan mendukung keseragaman dan keselarasan citra kawasan, serta menghindari ketidakteraturan citra kawasan, terutama pada kawasan dengan perkembangan yang pesat. Arsitektur adalah tempat kehidupan. Arsitektur juga adalah pijakan eksistensial dan manusia harus berteman dengan lingkungan sekitar. Kebudayaan itu selaras dengan pandangan hidup nilai-nilai yang kita punya.

Arsitektur Yogyakarta harusnya dapat menampung kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sampai saat ini, ada tiga jenis bangunan yang diakui menjadi cirikhas Yogyakarta: Jawa, Kolonial (Indische) dan Cina. Inilah yang kemudian diharapkan menjadi cirikhas dan terus dilestarikan. Ke depan, arsitektur bangunan di Yogyakarta menjadi jelas arahnya dalam membangun. Tak kalah pentingnya harus ada filosofis Yogyakarta pada bangunan itu.

Selama ini bangunan pemerintah yang didorong untuk melestarikan filosofis Yogyakarta banyak mengalami salah kaprah, meskipun maksud dan tujuannya ingin lebih baik. Semua bangunan di Yogyakarta saat ini, hampir semuanya berbentuk kotak. Hampir sama dengan bentuk bangunan di kota-kota lain sehingga belum menunjukkan cirikhas Yogyakarta. Meski demikian, ada beberapa bangunan yang sudah mulai menerapkan cirikhas Yogyakarta dengan menambahkan joglo di bagian depan rumah. Hal ini juga nampak dalam dinamika perkembangan Kabupaten Kulon Progo dari sisi pembangunan bangunan-bangunan.

Banyak yang berpendapat bahwa saat ini di Yogyakarta dirasa minim atau terkesan kurang bangunan yang punya arsitektur khas. Melihat perkembangan arsitektur bangunan di Yogyakarta cenderung mengabaikan arsitektur yang menjadi cirikhas sehingga arsitektur bangunan yang ada belum dapat mencerminkan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan. Terlebih jika melihat proses pembangunan yang amat cepat di Kabupaten Kulon Progo, style arsitektur khas Jawa banyak diabaikan karena beberapa faktor, seperti mahalnya biaya, lamanya proses, dan ketidaktahuan masyarakat.

Arsitektur bangunan bercirikhas Yogyakarta dipandang penting seiring dengan upaya menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan terkemuka di Indonesia. Kehadiran berbagai macam model gedung dan bangunan baru yang dibangun, sudah tidak mengindahkan penerapan identitas arsitektur bercirikhas Yogyakarta.

Oleh karena itu, dalam upaya pelestarian budaya daerah serta untuk menunjukkan jatidiri Yogyakarta pada umumnya, dan di Kabupaten Kulon Progo pada khususnya, diperlukan adanya kesadaran bersama antar pemerintah dan masyarakat untuk mengamalkan kebijakan pemerintah daerah tentang Peraturan Daerah (Perda) tentang arsitektur khas DIY maupun arsitektur yang mendukung lokalitas. Pemahaman akan peraturan itu dapat dijadikan pegangan bagi para arsitek maupun pemilik bangunan ketika membuat rancangan untuk pembangunan di ruang-ruang publik. Hal itu agar memberikan pertanda khas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam konteks persyaratan arsitektur bangunan gedung berkarakter keistimewaan, tentu sangat visibel dan memungkinkan untuk diterapkan kebijakan persyaratan arsitektur bangunan gedung yang sesuai dengan kultur budaya Yogyakarta. Oleh karena itu, persyaratan arsitektur bangunan gedung bercirikhas Yogyakarta perlu diatur secara tegas. Dan arsitektur bangunan di DIY, sebenarnya telah diatur dalam Perda DIY No. 1 tahun 2017 tentang Arsitektur Bangunan Berciri Khas Daerah Istimewa Yogyakarta, Pergub Nomor 40/2014 tentang panduan arsitektur bangunan baru bernuansa budaya daerah, serta Perbup no 87 tahun 2018 tentang Prototype bangunan bercirikas Kulon Progo.

Detail Perbup no 87 tahun 2018 tentang Prototype bangunan bercirikas Kulon Progo, adalah sebagai berikut:

Pengaturan Prototype Arsitektur pada bangunan-bangunan pemerintahan di Kabupaten Kulon Progo adalah pada elemen-elemen arsitekturnya, bukan dari segi bentuk keseluruhan bangunannya. Elemen yang dimaksud diantaranya seperti bentuk atap, lisplang, wuwungan, konsul, maupun ornamen instalasi dinding depan, harus mencerminkan kaidah arsitektur Jawa. Bahan yang digunakan bisa disesuaikan dengan kondisi bangunan yang ada, sehingga diperbolehkan dari semen, fiber, kayu atau bahan lain yang relevan. Warna untuk berbagai elemen, tidak ada ketentuan dan keharusan khusus, namun diutamakan warna putih. Proporsi luasan dan ukuran elemen elemen arsitektur, tidak ada ketentuan khusus, namun disesuaikan dengan proporsi bangunan, dengan mempertimbangkan aspek estetika, keamanan dan kenyamanan.

 

Pada bangunan seperti RUMAH, TEMPAT USAHA, dan bangunan swasta lain, guna membentuk sebuah identitas khas daerah, pemerintah akan mengatur agar masyarakat membubuhkan ornamen geblek renteng pada bangunannya, diantaranya bisa diaplikasikan pada Pagar dan Lisplang bangunan. Bahan yang digunakan bisa disesuaikan dengan kondisi bangunan yang ada, sehingga diperbolehkan dari semen, fiber, kayu atau bahan lain yang relevan. Warna untuk lisplang dan pagar rumah tidak ada ketentuandan keharusan khusus, sesuai selera masing masing. Proporsi luasan dan ukuran elemen elemen arsitektur, tidak ada ketentuan khusus, namun disesuaikan dengan proporsi bangunan,dengan mempertimbangkan aspek estetika, keamanan dan kenyamanan.

Desain GAPURA diambil mengadopsi bentuk “Gunungan” wayang yang dipadukan dengan ornamen “Geblek Renteng’. Bentuk gapura diolah sehingga terlihat lebih modern, namun tidak melupakan elemen tradisionalnya. Bahan yang digunakan bisa disesuaikan dengan kondisi kemampuan yang ada, sehingga diperbolehkan dari semen, fiber, bahan lain yang relevan. Ketentuan warna gapura adalah putih. Ukuran gapura tidak ada ketentuan khusus, namun disesuaikan dengan kondisi tempat masing masing dan mempertimbangkan aspek estetika, keamanan dan kenyamanan.

Desain JEMBATAN dibuat dengan bentuk yang sederhana, dengan inti desain pengaplikasian ornamen “Geblek Renteng”. Bahan ornamen “gebleg renteng” yang digunakan bisa disesuaikan dengan kondisi kemampuan yang ada, sehingga diperbolehkan dari semen, fiber, bahan lain yang relevan. Ketentuan warna ornamen adalah bebas. Ukuran ornamen tidak ada ketentuan khusus, namun disesuaikan dengan kondisi bangunan jembatan dan mempertimbangkan aspek estetika, keamanan dan kenyamanan.

Untuk bangunan PAGAR, yang diatur adalah penggunaan ornamen geblek renteng pada pagar. Dari segi bentuk diserahkan kepada kreatifitas masyarakat, dengan contoh pengaplikasian sebagai berikut, (boleh ditambah ruas ornamennya). Bahan ornamen “gebleg renteng” yang digunakan bisa disesuaikan dengan kondisi kemampuan yang ada, sehingga diperbolehkan dari fiber, besi dan bahan lain yang relevan. Ketentuan warna ornamen adalah bebas. Ukuran ornamen tidak ada ketentuan khusus, namun disesuaikan dengan kondisi dan ukuran pagar dengan mempertimbangkan aspek estetika, keamanan dan kenyamanan.

Untuk bangunan GARDU, yang diatur adalah penggunaan ornamen geblek renteng pada sisi pagar. Dari segi bentuk diserahkan kepada kreatifitas masyarakat, dengan contoh pengaplikasian sebagai berikut, (boleh ditambah ruas ornamennya). Bahan ornamen “gebleg renteng” yang digunakan bisa disesuaikan dengan kondisi kemampuan yang ada, sehingga diperbolehkan dari fiber, besi, kayu dan bahan lain yang relevan. Ketentuan warna ornamen adalah bebas. Ukuran ornamen tidak ada ketentuan khusus, namun disesuaikan dengan kondisi dan ukuran gardu dengan mempertimbangkan aspek estetika, keamanan dan kenyamanan.

Tak banyak yang menyadari nilai filosofis yang ada di berbagai sudut Yogyakarta, salah satunya di Kabupaten Kulon Progo. Arsitektur berbagai bangunan sudah mengalami modernisasi. Itu yang kemudian membuat banyak orang menyayangkan bahwa Yogyakarta ini mulai luntur identitasnya. Nantinya perlu untuk menata arsitektur bangunan di DIY yang berciri khas Yogyakarta seperti kota lainnya di Indonesia ataupun di dunia yang punya arsitektur khas. Yogyakarta adalah kota yang penuh makna dan penuh simbol filosofis. Hal itu bisa dilihat dari berbagai warna, bentuk bangunan dan tata ruang kota ini.

Dinas DPUPKP Kulon Progo yang berkolaborasi dengan DPMPT Kabupaten Kulon Progo, merupakan tempat untuk melakukan proses perijinan IMB, perlu melakukan terobosan yang tepat untuk mendukung keselarasan syle arsitektur dalam perkembangan kawasan yang pesat di Kabupaten Kulon Progo, sesuai dengan kaidah dan peraturan tentang bangunan bercirikhas Jawa yang sudah ada dan diterapkan.

Ke depan, seluruh bangunan baru harus menampilkan arsitektur dengan cirikhas budaya Yogyakarta. Sementara, bangunan yang sudah berdiri secara perlahan diharapkan menyesuaikan. Hal itu untuk melestarikan budaya Yogyakarta agar tak punah oleh zaman. Budaya bisa terus terlihat, salah satunya jika ditampilkan dalam bentuk arsitektur bangunan. Kalau sudah ada bangunan khas Yogyakarta, orang juga tahu bahwa saat itu sudah berada di Yogyakarta.

« Kembali | Kirim | Versi cetak