aerotropolis city bagian 2

Kamis, 4 Juli 2019 08:10:56 - Oleh : Bidang Perumahan dan Permukiman

K O T A   B A N D A R A

(AEROTROPOLIS CITY) bag. 2

Bagaimana dengan Kulon Progo ?

Pemerintah merencanakan pengembangan 3 bandara di Indonesia menjadi konsep Aerotropolis (airport city) atau kota bandara. Ketiga bandara tersebut ialah Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo dan Bandara Ngurah Rai Bali. Berbagai pihak baik pemerintah kabupaten, pemerintah propinsi hingga pemerintah pusat menaruh perhatian besar terhadap pembangunan YIA, termasuk dalam pengembangannya sebagai sebuah kota bandara atau aerotropolis city. Adanya masterplan kawasan aerotropolis yang saat ini dalam proses penyusunan diharapkan dapat menjadi pijakan, pengarah, sekaligus pengendalian dalam pertumbuhan dan perkembangan kawasan. Hal tersebut dilakukan agar efek positif pembangunan YIA benar-benar dirasakan masyarakat karena pembangunan YIA akan menimbulkan efek masif bagi masyarakat baik Kulonprogo, DIY, dan sejumlah wilayah terdekat seperti Solo atau Semarang. Akan ada zona pertumbuhan yang besar di kawasan tersebut baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Bahkan diprediksi bandara YIA ini akan menimbulkan peradaban baru terutama bagi warga masyarakat sekitarnya. Karena ada pertumbuhan teknologi dan ilmu pengetahuan di dalamnya. Aspek lain seperti pariwisata juga akan meningkat cukup tajam dalam waktu yang tak terlalu lama.

Gambar : ilustrasi Bandara YIA di Kulon Progo (sumber : jogja.tribunnews.com)

Aerotropolis sendiri diartikan sebagai konsep pengembangan wilayah yang harus tertata dan terkonsep di sekitar sebuah bandara. Artinya, setiap pembangunan infrastruktur di dalamnya harus benar-benar dikonsep dari awal. Meskipun, dalam proses pengadaan infrastrukturnya dilakukan secara bertahap. Peruntukan area harus diperhatikan.  Sebagai contoh, dalam Aerotropolis ini harus ada peruntukan antara area perkantoran, wisata maupun pemukiman termasuk lahan perkebunan dan persawahan di dalamnya.

Antara satu dengan yang lain, harus bersinergi dan pembangunannya tidak boleh sembarangan supaya antara satu dengan yang lain tidak saling tumpang tindih, sebagai contoh : area perkebunan, harus ada lokasi peruntukan dan tak boleh terganggu proyek insfrastruktur lainnya. Dalam perkembangannya, pengelola perkebunan juga harus ikut merasakan dampak positif YIA, yaitu dengan mendorong mereka supaya menanam tanaman strategis yang layak ekspor di pasaran karena keberadaan YIA yang menjadi akses utama.

Masterplan aerotropolis bandara YIA ini juga harus masuk dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) agar bisa dijadikan pegangan sebagai sebuah aturan dan regulasi yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan kawasan. Melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi maupun Dinas Perdagangan Kulonprogo yang perlu untuk segera mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) menyambut konsep aerotropolis. Karena tak bisa dipungkiri, konsep ini akan menyedot banyak sekali tenaga kerja di sekitar YIA. Dinas terkait harus segera melakuman komunikasi dengan pihak terkait seperti investor atau pengembang dalam upaya melakukan penjajakan terkait tenaga kerja yang dibutuhkan termasuk kompetensi yang dibutuhkan. Baru setelah itu, disiapkan pelatihan untuk masyarakat Kulonprogo agar dapat memenuhi kualifikasi yang diinginkan pengembang. Supaya masyarakat bisa benar-benar terjaring ke dalam banyaknya lapangan kerja sehingga bisa lebih sejahtera. Tak hanya itu, perlu disiapkan pula kualitas produk perdagangan yang menarik karena perputaran ekonomi juga akan semakin tinggi. Apapun produk yang dijual, harus berkualitas, sistem pemasaran yang jitu serta kemasan yang baik dan menarik agar pembeli berminat untuk membelinya. Serupa dengan pentingnya mempersiapkan SDM untuk menyambut lapangan pekerjaan di sekitar YIA, pendampingan untuk para Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini juga sangat penting. Dinas terkait, juga perlu memberikan pelatihan untuk mempersiapkan UMKM yang punya daya saing.

Begitu pula, instansi terkait lainnya harus mulai mempersiapkan diri menyambut perkembangan kawasan sebagai sebuah kota aerotropolis. Sehingga ketika masterplan telah selesai disusun dan telah menjadi bagian dari RTRW dapat diimplementasikan dengan baik dan sinergi. Dinas pariwisata dan budaya, dinas pendidikan, dinas sosial, hingga dinas kesehatan perlu segera mempersiapkan diri. Harapannya selain kesiapan masing-masing instansi, masyarakat, hingga konsep perencanaan (masterplan) yang matang akan menjadikan Kulon Progo sebagai kota bandara atau aerotropolis yang memberikan manfaat positif bagi masyarakatnya, tidak meninggalkan kearifan dan budaya lokal, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kulon Progo, serta memajukan Kulon Progo dari segi pembangunan dan infrastrukturnya.

« Kembali | Kirim | Versi cetak