Konsep Pengembangan Permukiman Kota bag. 1

Rabu, 22 Mei 2019 14:35:04 - Oleh : Bidang Perumahan dan Permukiman yang dikutip dari berbagai Sumber


TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT

( Konsep Pengembangan Permukiman Kota )

 

Transit Oriented Development atau disingkat menjadi TOD merupakan salah satu pendekatan pengembangan Permukiman kota yang mengadopsi tata ruang campuran dan maksimalisasi penggunaan angkutan massal seperti Busway/BRT, Kereta api kota (MRT), Kereta api ringan (LRT), serta dilengkapi jaringan pejalan kaki/sepeda. Dengan demikian perjalanan/trip akan didominasi dengan menggunakan angkutan umum yang terhubungkan langsung dengan tujuan perjalanan. Tempat perhentian angkutan umum mempunyai kepadatan yang relatif tinggi dan biasanya dilengkapi dengan fasilitas parkir, khususnya parkir sepeda

Transit Oriented Development adalah konsep pengembangan Permukiman kota dengan usaha yang dilakukan adalah memasukkan berbagai fungsi kegiatan (mixed-use/intensifikasi) di area sekitar stasiun transit hingga sejauh radius yang dapat dijangkau pejalan kaki (yaitu 400 m atau sama dengan jarak tempuh berjalan kaki selama 10 menit).

Kawasan TOD adalah perwujudan commercial core dengan jarak terjangkau oleh penduduk sekitar dengan jalan yang tidak terlalu besar , dengan parkir sebagai buffer bagi pedestrian, back-lot alleys, tata guna mix used.

Kawasan TOD menyerupai bentuk komunitas tradisional dengan karakteristik unik dan berbeda dimana stasiun transit dan sekitarnya sebagai focal point.  Dengan kepadatan 12 unit per acre (± 4000 m²) dan rata-rata 2.5 orang per rumah tangga, kawasan TOD dengan radius seperempat mil dapat mengakomodasi populasi sebesar 3800 penduduk. (Ibid, hal 87)  kawasan TOD terkonsep menjadi beberapa fungsi lahan sebagai arahan pengembangan dan mendukung fasilits transit, yang terdiri dari daerah komersial inti, daerah permukiman, penggunaan public dan area sekunder.

TOD merupakan  peruntukan lahan campuran berupa perumahan atau  perdagangan yang direncanakan untuk memaksimalkan akses angkutan umum dan sering ditambahkan kegiatan lain untuk mendorong penggunaan moda angkutan umum. Strategi TOD yaitu dengan perkuatan pelayanan angkutan umum berbasis MRT (Mass Rapid Transit) yang didasarkan jarak tempuh, biaya transportasi dan volume, serta pengurangan kendaraan pribadi.

TOD harus ditempatkan,

-       Pada jaringan utama angkutan massal

-       Pada koridor jaringan bus/ BRT dengan frekuensi tinggi

-       Pada jaringan penumpang bus yang waktu tempuhnya kurang dari 10 menit dari jaringan utama angkutan massal.

Kalau persyaratan diatas tidak dipenuhi oleh suatu kawasan maka perlu diambil langkah untuk menghubungkan dengan angkutan massal, disamping itu yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah frekuensi angkutan umum yang tinggi.

Ciri Tata Ruang TOD

Ada beberapa ciri tata ruang campuran yang bisa dicapai dengan mudah cukup berjalan kaki atau bersepeda. Beberapa ciri penting yang akan terjadi dalam pengembangan TOD yaitu:

-        Penggunaan ruang campuran yang terdiri dari pemukiman, perkantoran, serta fasilitas pendukung,

-        Kepadatan penduduk yang tinggi yang ditandai dengan bangunan apartemen, condominium

-        Tersedia fasilitas perbelanjaan

-        Fasilitas kesehatan,

-        Fasilitas pendidikan

-        Fasilitas hiburan

-        Fasilitas olahraga

-        Fasilitas Perbankan

Pengurangan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi

Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi cenderung meningkat di kota-kota besar Indonesia, pilihan moda pribadi telah meningkat menjadi 80 persenan, sedangkan  kondisi tahun 1980an angkanya masih berkisar 50-50. Hal ini akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan penerapan TOD di beberapa kota besar menunjukkan penurunan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, karena adanya pilihan yang cepat, murah dan mudah mencapai tujuan hanya dengan hanya berjalan kaki, berjalan kaki, menggunakan angkutan umum, Masyarakat tidak perlu repot mencari tempat parkir, membayar biaya parkir yang tinggi, biaya operasi yang tinggi pula.

Skema TOD dalam Distrik

 

Transit point pada halte dan Taxi Stands sebagai Titik-titik kedatangan utama pejalan kaki dan perpindahan moda ke aktivitas-aktivitas kawasan diakomodasi dengan distribusi halte/ pangkalan kendaraan umum.

Transit point merupakan titik-titik atau node yang direncanakan sebagai titik transit atau pergantian moda transportasi (formal dan informal) atau meneruskan dengan berjalan kaki. Faktor yang mempengaruhi titik transit point yaitu time distance atau waktu tempuh dengan tujuan perjalanan, ketersediaan moda untuk meneruskan perjalanan. Lokasi transit point direncakanakan pada sub terminal, stasiun tramp, dermaga wisata, halte dan taxi stands.Transit core merupakan zona inti pada kawasan transit dengan radius pengaruh pelayanan dan penataan ¼ mil atau 400 meter atau 50 ha. Transit neighborhood merupakan zona ring kedua sebagai kawasan terdekat atau lingkungan sekitar, dengan radius pengaruh ½ mil atau 800 meter atau sekitar 200 ha dari titik transit. Faktor yang menentukan transit point adaloah land use, working distance, cost transport, trayek pelayanan moda transportasi umum (formal dan informal).

            Image Implementasi TOD dalam Land Use Planning

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak